SEJARAH CINGKRIG
Maen pukulan (silat) cingkrig adalah silat yang lahir dan
berkembang di kampung Rawa belong.Oleh karena itu hubungan antara keduanya
sangat erat dan identik.Jadi apabila bicara cingkrig maka rawa belong juga ikut di bicarakan,begitu pula sebaliknya.
Kata
cingkrig berasal dari,ungkapan
bahasa betawi yakni “jingkrak-jingkrik atau cingkrak-cingkrik” yang dapat
diartikan gesit dan lincah.Oleh karena itu di setiap gerakan dalam silat cingkrig dibutuhkan kegesitan dan kelincahan.Hal ini mengacu pada
gerakan natural dari gerakan kera yang sangat gesit dan lincah,hingga
dikembangkan menjadi jurus silat (maen pukulan) yang lincah dan atraktif dalam
setiap serangan yang sekaligus pertahanan dan pertahanan sekaligus juga
serangan.
Disini
kami menulis kata cingkrig dengan
menggunakan huruf “G” pada huruf
akhirnya karena mengacu kepada kebiasaan logat betawi Rawa Belong yang
biasanya mengganti akhiran huruf “K” dengan menggunakan huruf “G” seperti kata
beduk menjadi bedug,gerobak menjadi gerobag,gubuk menjadi gubug dan lain
sebagainya.Adapun kata cingkrik
dengan menggunakan huruf “K” pada huruf akhirnya adalah mengikuti kebiasaan
logat orang luar Rawa Belong.Jadi baik kata cingkrig maupun kata cingkrik
tidak terdapat perbedaan arti dan makna hanya perbedaan dalam segi pengucapan
yang dipengaruhi oleh logat orang yang mengucapkan.
Rawa Belong adalah sebuah kampung yang tidak
begitu luas yang berada di timur laut kelurahan Sukabumi(saat ini kelurahan Sukabumi
Utara) yang dikelilingi oleh kampung Rawa Bunder(Suteng),kampung Kemanggisan
dan kampung Kemandoran.Seiring dengan waktu orang-orang luar Rawa Belong yang
agak jauh dari Rawa belong menyebut kelurahan Sukabumi dan daerah yang
berdekatan dengannya seperti sebagian dari kelurahan Kelapa Dua,sebagian
kelurahan Kebon Jeruk,sebagian kampung Kemandoran dan sebagian kampung
Kemanggisan dengan sebutan Rawa belong.Hal ini terjadi kemungkinan karena pada
masa itu kampung Rawa Belong adalah
kampung yang sangat terkenal jadi ketika orang kampung sekitar Rawa
Belong berinteraksi dengan orang kampung lain yang agak jauh seperti
Petamburan,Tanah Abang,Karet,Mampang dan sebagainya maka orang kampung sekitar
Rawa Belong selalu menyebut nama kampungnya disertai dengan menyebut Rawa
Belong disamping untuk memudahkan orang yang diajak berinteraksi untuk
mengingat atau mengenali kampungnya juga dengan menyebut nama Rawa Belong maka
orang tersebut akan merasa lebih aman dalam melakukan perjalanan kekampung lain
yang agak jauh dari kampungnya.Karena umumnya orang kampung Rawa Belong
terkenal sebagai kampung yang banyak memiliki Ulama dan Jawara maka orang
kampung Rawa Belong sangat disegani oleh orang-orang dari kampung lainnya
bahkan yang jauh sekalipun.Dialek/logat dan bahasa betawi yang digunakan di
Rawa Belong adalah sesuai dengan daerah geografisnya yang berada antara betawi
tengah dan betawi pinggir,jadi dialek yang dipergunakan di Rawa Belong
merupakan pertengahan atau antara betawi tengah dan betawi pinggir.Seperti kata
mana dalam bahasa betawi tengah menjadi
mane dengan menggunakan huruf “e” yang dibaca dengan nada datar bahkan ada yang
membaca dengan logat/dialek melayu.Sedangkan dalam dialek /logat betawi pinggir
dibaca “mana” dengan akhiran “a” tetapi dengan tekanan suara yang lebih pada
huruf “a” tersebut,ada juga yang membaca “manah” dengan tambahan huruf “h” pada
akhirnya.Adapun dialek orang Rawa Belong adalah dibaca “mane” dengan huruf
akhir “e” dengan diberikan tekanan yang lebih pada huruf “e” tersebut.
TOKOH,SEJARAH DAN ASAL-USUL
KI MAING,SANG KREATOR CINGKRIG
Bila
berbicara Maen pukulan (silat) Cingkrig,
tidak bisa di pisahkan dengan tokoh yang membawa dan mengembangkan maen pukulan
itu sendiri yaitu: Ki Ma’ing. Alkisah di masa lalu, banyak orang Rawa Belong
yang menimba dan menuntut ilmu ke daerah Kulon (tidak dapat di pastikan
tempatnya), karena berdasarkan informasi dari para orang tua, bahwa daerah
Meruya dan Tanggerang sudah di anggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada
waktu itu. Mereka menimba ilmu dengan belajar
ilmu agama dan juga ilmu beladiri, baik itu ilmu olah bathin maupun ilmu
kanuragan.
Dari sekian banyak orang rawa Belong
yang menimba ilmu di kulon, salah satunya adalah Ki Ma’ing . Namun belum tuntas
belajar, Ki Maing memutuskan kembali ke Rawa Belong. Pada suatu ketika Ki Maing
yang sedang berjalan,kemudian tongkatnya direbut oleh seekor kera milik
tetangganya yang bernama Nyi Seereh,
spontan ki Maing menarik tongkatnya, dan selanjutnya terjadilah perebutan
tongkat antara Ki maing dan Si kera Nyi Seereh, kera tidak mau mengalah begitu
saja, dengan sigap dan lincahnya berusah
menarik tongkat Ki Maing, dengan di sertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang
menyerupai gerakan silat.
Ki Maing
sangat terkesan dengan gerakan
kera tersebut. Hampir setiap hari Ki maing
mendatangi kera tersebut untuk mempelajari dan menganalisanya. Setiap gerakan pertahanan si kera
diiringi dengan serangan yang lincah, dan begitu pula
sebaliknya.Setiap gerakan serangan merupakan
juga pertahanan dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu
gesit dan lincah. Dari pengamatan
gerakan natural kera tersebut serta
ketekunanya berlatih, oleh Ki maing di kembangkan menjadi gerakan jurus silat
yang kemudian hari di kenal dengan
sebutan CINGKRIG.
Setelah
ki Maing menguasai jurus-jurus tersebut, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke
padepokannya untuk meminta saran dari teman-teman seperguruannya serta meminta
izin dan restu dari guru beliau. Setelah teman-teman dan guru beliau melihat
jalan jurus serta aplikasi (sambut) yang beliau perlihatkan, merekapun mengakui
keunggulan jurus-jurus tersebut. Maka sang
guru memberi izin dan restunya kepada beliau untuk mengajar atau
menyebarkan ilmu silat tersebut.
Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing
menyebar luaskan ilmu tersebut kepada beberapa orang di lingkungan sekitar
tempat tinggalnya. Namun pada fase isi ilmu silat tersebut belum di kenal
dengan nama CINGKRIG tetapi hanya di
kenal dengan sebutan “Maen Pukul” saja.
Nama CINGKRIG awalnya lebih dikenal diluar Rawa Belong sedangkan di Rawa
Belong sendiri lebih sering disebut maen pukul/maenan dengan menisbatkan kepada
guru yang mengajarkannya,seperti maenan Kong Ayat,maenan Kong Uming,maenan Kong
Acik dan lain-lain.Adapun maenan cingkrig diluar Rawa Belong awalnya juga
menisbatkan kepada guru yang mengajarkannya,hanya saja terjadi kemungkinan :
karena jurus pertama dari cingkrig yang berkembang diluar Rawa Belong bernama
jurus cingkrig sehingga ketika sesorang
yang belajar maenan ini ditanya mengenai maenan yang dipelajari maka secara
tidak langsung nama cingkrig akan terbawa,seperti ketika ditanya : “lu belajar
maenan apean? Kemudian akan dijawab maenan Bang Sinan.Maenannye kaye
gimane?maenannye yang ade jurus cingkrignye.” Atau “ lu belajar apean? Belajar
jurus cingkrig” yang mana akhirnya kata cingkrig ini menjadi identitas maenan
ini dan menjadi terkenal dengan nama CINGKRIG.
Ada beberapa kesimpulan umum dari silat betawi cingkrig ini, yakni:
* Filosofi menyerang adalah bertahan dan bertahan dengan menyerangnya yang tercermin dalam 12 jurus cingkrig. Tangan yang satu bertahan, tangan yang lain simultan atau sekuensial langsung melakukan penyerangan. Kaki yang satu bertahan, kaki yang lain digunakan untuk menyerang.
* Kuda-kuda rendah dengan pergerakan cepat dan lincah menjadi ciri dari maenan ini.
* Perkembangannya yang unik seiring dengan waktu. Di Rawa Belong ada istilah: "Jangankan beda daerah/wilayah, beda gang saja cingkrig yang dipegang/dipelajari bisa berbeda." Sehingga bisa jadi antara cingkrig daerah A berbeda dengan daerah B, itupun cenderung lebih disebabkan karena variasi kembangan (perkembangan jurus) dan/atau kelebihan atau kekurangan dari individu masing-masing. Misal ada yang jurus 1-nya terlihat bagus sekali, tapi jurus 2-nya biasa sekali, lebih kurangnya seperti itu. Namun biasanya tetap ada beberapa keunikan gerak atau filosofi tersendiri.
* Biasanya semuanya akan "sepakat" menyebut bahwa cingkrig identik dengan Rawa Belong, terlepas dari dinamika yang terjadi mengenai masalah “keaslian”. Hal ini adalah karena memang cingkrig tercipta - tumbuh - berkembang - dan berpusat di Rawa Belong. Karena menurut informasi , Ki Maing sendiri adalah orang/warga/penduduk yang tinggal di Rawa Belong.
Ki Maing menurunkan Maen Pukul ini kepada murid- muridnya, di antaranya yang di kenal : Ki Saari, Ki Ali, dan Ki Ajid.
Ada beberapa kesimpulan umum dari silat betawi cingkrig ini, yakni:
* Filosofi menyerang adalah bertahan dan bertahan dengan menyerangnya yang tercermin dalam 12 jurus cingkrig. Tangan yang satu bertahan, tangan yang lain simultan atau sekuensial langsung melakukan penyerangan. Kaki yang satu bertahan, kaki yang lain digunakan untuk menyerang.
* Kuda-kuda rendah dengan pergerakan cepat dan lincah menjadi ciri dari maenan ini.
* Perkembangannya yang unik seiring dengan waktu. Di Rawa Belong ada istilah: "Jangankan beda daerah/wilayah, beda gang saja cingkrig yang dipegang/dipelajari bisa berbeda." Sehingga bisa jadi antara cingkrig daerah A berbeda dengan daerah B, itupun cenderung lebih disebabkan karena variasi kembangan (perkembangan jurus) dan/atau kelebihan atau kekurangan dari individu masing-masing. Misal ada yang jurus 1-nya terlihat bagus sekali, tapi jurus 2-nya biasa sekali, lebih kurangnya seperti itu. Namun biasanya tetap ada beberapa keunikan gerak atau filosofi tersendiri.
* Biasanya semuanya akan "sepakat" menyebut bahwa cingkrig identik dengan Rawa Belong, terlepas dari dinamika yang terjadi mengenai masalah “keaslian”. Hal ini adalah karena memang cingkrig tercipta - tumbuh - berkembang - dan berpusat di Rawa Belong. Karena menurut informasi , Ki Maing sendiri adalah orang/warga/penduduk yang tinggal di Rawa Belong.
Ki Maing menurunkan Maen Pukul ini kepada murid- muridnya, di antaranya yang di kenal : Ki Saari, Ki Ali, dan Ki Ajid.
Tidak banyak kisah mengenai ketiga
murid dari Ki Maing tersebut hanya saja diketahui bahwa ketiga murid beliau
tersebut memiliki keistimewaan masing-masing.
*Ki Saari
Beliau hanya dikenal sebagai murid dari Ki Maing
dengan keistimewaan gerakan tangan yang sangat cepat,terutama gerakan
menotok.Keistimewaan ini adalah untuk menutupi kekurangan beliau dalam
menggunakan kaki karena kaki beliau setengah lumpuh.Jalur Ki Saari ini tidak
diketahui siapa penerusnya.
#Menurut sebagian riwayat ada yang mengatakan bahwa jalur Ki Saari diteruskan oleh Kong Wahab dan keturunannya.Wallahu A'lam
#Menurut sebagian riwayat ada yang mengatakan bahwa jalur Ki Saari diteruskan oleh Kong Wahab dan keturunannya.Wallahu A'lam
*Ki Ali
Beliau dikenal sebagai guru cingkrig yang mengajarkan silat cingkrig kepada orang luar kampung Rawa
Belong,murid-murid beliau adalah orang –orang dari kampung sekitar Rawa Belong,diantara
murid beliau yang terkenal adalah :
-Kong Sinan:Beliau mengembangkan cingkrig di daerah Kebon Jeruk tetapi
murid beliau tersebar dibanyak kampung lain seperti Tanah Abang,Karet
Tengsin,Mampang dan lain-lain.Di antara murid dari kong Sinan adalah :Kong
Kelek ( Syatiri) daerah Kebon Jeruk,Kong Ayar dan Kong Abu Hasyim daerah
Karet,Kong Ma’ruf dan Kong Rodani daerah Mampang dan masih banyak lainnya.
-Kong Goning:Beliau mengembangkan cingkrig di daerah Kemanggisan,kedoya,pejuangan
dan sekitarnya,diantara murid beliau adalah Kong Usup Utay,Kong Tabrani,Kong
Amsir, Kong Hamdan(nama asli beliau Romli) nama Hamdan muncul karena beliau
sering memimpin rekan-rekannya sehingga dipanggil “bang Ndan” kependekan dari
komandan yang akhirnya nama beliau lebih dikenal sebagai bang Ndan,karena lebih
sering dipanggil bang Ndan akhirnya banyak orang yang lupa nama aslinya
sehingga kemudian hari beliau lebih dikenal dengan nama Hamdan.dan lain-lain.Wallahu A'lam
-Kong Sakam:Beliau mengembangkan cingkrig di wilayah Depok.
-Ki Legod:Beliau mengembangkan cingkrig di wilayah Muara Angke,Pesing
dan sekitarnya.
*Ki Ajid
Beliau mengajarkan cingkrig di kampung Rawa Belong,murid
beliau tidaklah banyak hanya ada dua orang yang kami ketahui.Hal ini
kemungkinan karena kerasnya beliau dalam mengajar ,juga karena kesibukan beliau
dalam mendampingi seorang ulama dari Rawa Belong ketika ulama tersebut mengajar
di kampung lain.kedua murid beliau adalah :
-Kong Uming:beliau mengajarkan cingkrig di daerah Rawa Belong sebelah
utara,diantara murid beliau adalah :Babe H.Nur Ali Akbar(Babe Nunung),Babe
Hasan kumis,Babe Akib,Babe Suwarno Ayyub(Babe Warno),Babe Tarman dan Babe Aman.
H Hayat,salah
satu murid Ki Ajid
-Kong Ayat (H Hayat) :beliau
mengajarkan cingkrig di daerah Rawa
Belong sebelah selatan,diantara murid beliau adalah :Kong Acik(Munasik bin
Hamim),Kong Wahab,Kong Majid dan Kong Jayani.
Jadi secara umum aliran cingkrig itu ada dua jalur utama yaitu
: Jalur Ki Ali yang mengembangkan diluar Rawa Belong kami menyebutnya “cingkrig
Kebon Jeruk” dan jalur Ki Ajid yang mengembangkan cingkrig di Rawa Belong kami
menyebutnya “cingkrig Rawa Belong” .Dari kedua jalur inilah kemudian menjadi
beberapa perguruan dengan berbagai variasi pengembangan mengikuti karakter para praktisinya namun
tetap akan terlihat dari jalur mana perguruan tersebut.Selama ini sering
terjadi kesalah fahaman dengan menyatakan bahwa cingkrig itu ada dua jalur yaitu jalur Kong Goning dan jalur Kong
Sinan,yang benar adalah jalur Ki Ali dan jalur Ki Ajid,sebab Kong Goning dan
Kong Sinan serta Kong Sakam dan Ki Legod adalah berasal dari satu jalur yaitu
jalur Ki Ali, sedangkan Kong Ayat dan Kong Uming dari jalur Ki Ajid.Hanya saja
masing-masing guru tersebut akhirnya juga memiliki ciri tersendiri tetapi tidak
keluar dari ciri guru mereka.
Silat cingkrig memiliki 12 jurus yang urutan maupun namanya bisa saja
terjadi perbedaan antara perguruan yang satu dengan yang lainnya hal ini bisa
terjadi karena berbagai macam sebab,tetapi jika diperhatikan dengan seksama
maka akan terlihatlah keseragaman didalam jurus-jurus tersebut yaitu berupa
inti dari jurus yang bersangkutan.
Untuk membedakan antara jalur ki Ajid
dengan jalur ki Ali bisa dilihat dari nama-nama jurusnya selain dengan melihat jalan
jurusnya,diantaranya :
*Jurus pertama jalur ki Ajid adalah
jurus beset,sedangkan jalur ki Ali jurus cingkrig
*Dalam jurus jalur ki Ajid ada jurus
satu kurung,jurus singa,jurus macan yang tidak dimiliki oleh jalur ki Ali.
*Dalam jurus jalur ki Ali ada jurus
singa deprok,singa beset/singa tonjok/singa pukul,jurus tedeng yang tidak
dimiliki oleh jalur ki Ajid,tapi kemungkinan jurus tedeng adalah jurus longok dalam jalur Ki Ajid
Demikian mengenai sejarah cingkrig dan
tokoh-tokoh yang mengembangkan maenan ini berdasarkan pengetahuan kami yang
hanya sedikit,mungkin disana sini masih banyak kekurangan dan kesalahan baik
yang terjadi karena ketidak sengajaan maupun karena kebodohan dari penulis,oleh
karena itu sudilah bagi yang mengetahui dimana letak kesalahan itu untuk
memperbaikinya.
tulisan ini bersumber dari diskusi sahabat silat dan beberapa praktisi cingkrig yang pernah ditemui penulis.terima kasih buat para sahabat silat dan juga praktisi cingkrig yang ikut berpartisipasi sehingga terwujudlah tulisan ini.
tulisan ini bersumber dari diskusi sahabat silat dan beberapa praktisi cingkrig yang pernah ditemui penulis.terima kasih buat para sahabat silat dan juga praktisi cingkrig yang ikut berpartisipasi sehingga terwujudlah tulisan ini.
Terima
Kasih
Jakarta,4
Desember 2013
Abay
ibnu Shidiq
Praktisi
cingkrig di Rawa Belong