Jumat, 09 Mei 2014

CINGKRIG MAENPUKUL KHAS RAWA BELONG



SEJARAH CINGKRIG
    Maen pukulan (silat) cingkrig adalah silat yang lahir dan berkembang di kampung Rawa belong.Oleh karena itu hubungan antara keduanya sangat erat dan identik.Jadi apabila bicara cingkrig maka rawa belong juga ikut di bicarakan,begitu pula sebaliknya.
    Kata cingkrig berasal dari,ungkapan bahasa betawi yakni “jingkrak-jingkrik atau cingkrak-cingkrik” yang dapat diartikan gesit dan lincah.Oleh karena itu di setiap gerakan  dalam silat cingkrig dibutuhkan kegesitan dan kelincahan.Hal ini mengacu pada gerakan natural dari gerakan kera yang sangat gesit dan lincah,hingga dikembangkan menjadi jurus silat (maen pukulan) yang lincah dan atraktif dalam setiap serangan yang sekaligus pertahanan dan pertahanan sekaligus juga serangan.
Disini kami menulis kata cingkrig dengan menggunakan huruf “G” pada huruf  akhirnya karena mengacu kepada kebiasaan logat betawi Rawa Belong yang biasanya mengganti akhiran huruf “K” dengan menggunakan huruf “G” seperti kata beduk menjadi bedug,gerobak menjadi gerobag,gubuk menjadi gubug dan lain sebagainya.Adapun kata cingkrik dengan menggunakan huruf “K” pada huruf akhirnya adalah mengikuti kebiasaan logat orang luar Rawa Belong.Jadi baik kata cingkrig maupun kata cingkrik tidak terdapat perbedaan arti dan makna hanya perbedaan dalam segi pengucapan yang dipengaruhi oleh logat orang yang mengucapkan.
   Rawa Belong adalah sebuah kampung yang tidak begitu luas yang berada di timur laut kelurahan Sukabumi(saat ini kelurahan Sukabumi Utara) yang dikelilingi oleh kampung Rawa Bunder(Suteng),kampung Kemanggisan dan kampung Kemandoran.Seiring dengan waktu orang-orang luar Rawa Belong yang agak jauh dari Rawa belong menyebut kelurahan Sukabumi dan daerah yang berdekatan dengannya seperti sebagian dari kelurahan Kelapa Dua,sebagian kelurahan Kebon Jeruk,sebagian kampung Kemandoran dan sebagian kampung Kemanggisan dengan sebutan Rawa belong.Hal ini terjadi kemungkinan karena pada masa itu kampung Rawa Belong adalah  kampung yang sangat terkenal jadi ketika orang kampung sekitar Rawa Belong berinteraksi dengan orang kampung lain yang agak jauh seperti Petamburan,Tanah Abang,Karet,Mampang dan sebagainya maka orang kampung sekitar Rawa Belong selalu menyebut nama kampungnya disertai dengan menyebut Rawa Belong disamping untuk memudahkan orang yang diajak berinteraksi untuk mengingat atau mengenali kampungnya juga dengan menyebut nama Rawa Belong maka orang tersebut akan merasa lebih aman dalam melakukan perjalanan kekampung lain yang agak jauh dari kampungnya.Karena umumnya orang kampung Rawa Belong terkenal sebagai kampung yang banyak memiliki Ulama dan Jawara maka orang kampung Rawa Belong sangat disegani oleh orang-orang dari kampung lainnya bahkan yang jauh sekalipun.Dialek/logat dan bahasa betawi yang digunakan di Rawa Belong adalah sesuai dengan daerah geografisnya yang berada antara betawi tengah dan betawi pinggir,jadi dialek yang dipergunakan di Rawa Belong merupakan pertengahan atau antara betawi tengah dan betawi pinggir.Seperti kata mana  dalam bahasa betawi tengah menjadi mane dengan menggunakan huruf “e” yang dibaca dengan nada datar bahkan ada yang membaca dengan logat/dialek melayu.Sedangkan dalam dialek /logat betawi pinggir dibaca “mana” dengan akhiran “a” tetapi dengan tekanan suara yang lebih pada huruf “a” tersebut,ada juga yang membaca “manah” dengan tambahan huruf “h” pada akhirnya.Adapun dialek orang Rawa Belong adalah dibaca “mane” dengan huruf akhir “e” dengan diberikan tekanan yang lebih pada huruf “e” tersebut.
            TOKOH,SEJARAH DAN ASAL-USUL
   KI MAING,SANG KREATOR CINGKRIG
  Bila berbicara Maen pukulan (silat) Cingkrig, tidak bisa di pisahkan dengan tokoh yang membawa dan mengembangkan maen pukulan itu sendiri yaitu: Ki Ma’ing. Alkisah di masa lalu, banyak orang Rawa Belong yang menimba dan menuntut ilmu ke daerah Kulon (tidak dapat di pastikan tempatnya), karena berdasarkan informasi dari para orang tua, bahwa daerah Meruya dan Tanggerang sudah di anggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu. Mereka menimba ilmu dengan belajar  ilmu agama dan juga ilmu beladiri, baik itu ilmu olah bathin maupun ilmu kanuragan.

Dari sekian banyak orang rawa Belong yang menimba ilmu di kulon, salah satunya adalah Ki Ma’ing . Namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan kembali ke Rawa Belong. Pada suatu ketika Ki Maing yang sedang berjalan,kemudian tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya  yang bernama Nyi Seereh, spontan ki Maing menarik tongkatnya, dan selanjutnya terjadilah perebutan tongkat antara Ki maing dan Si kera Nyi Seereh, kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya  berusah menarik tongkat Ki Maing, dengan di sertai beberapa  gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai gerakan silat.

 Ki Maing  sangat  terkesan dengan gerakan kera tersebut. Hampir setiap hari Ki maing  mendatangi kera tersebut untuk mempelajari dan menganalisanya.  Setiap gerakan pertahanan si kera diiringi  dengan serangan  yang lincah, dan begitu pula sebaliknya.Setiap gerakan serangan merupakan  juga pertahanan dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan  lincah. Dari pengamatan gerakan natural kera   tersebut serta ketekunanya berlatih, oleh Ki maing di kembangkan menjadi gerakan jurus silat yang kemudian hari  di kenal dengan sebutan CINGKRIG.

Setelah ki Maing menguasai jurus-jurus tersebut, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya untuk meminta saran dari teman-teman seperguruannya serta meminta izin dan restu dari guru beliau. Setelah teman-teman dan guru beliau melihat jalan jurus serta aplikasi (sambut) yang beliau perlihatkan, merekapun mengakui keunggulan jurus-jurus tersebut. Maka sang  guru memberi izin dan restunya kepada beliau untuk mengajar atau menyebarkan ilmu silat  tersebut.
Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebar luaskan ilmu tersebut kepada beberapa orang di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Namun pada fase isi ilmu silat tersebut belum di kenal dengan nama CINGKRIG tetapi hanya di kenal dengan sebutan  Maen Pukul” saja.
Nama CINGKRIG awalnya lebih  dikenal diluar Rawa Belong sedangkan di Rawa Belong sendiri lebih sering disebut maen pukul/maenan dengan menisbatkan kepada guru yang mengajarkannya,seperti maenan Kong Ayat,maenan Kong Uming,maenan Kong Acik dan lain-lain.Adapun maenan cingkrig diluar Rawa Belong awalnya juga menisbatkan kepada guru yang mengajarkannya,hanya saja terjadi kemungkinan : karena jurus pertama dari cingkrig yang berkembang diluar Rawa Belong bernama jurus cingkrig  sehingga ketika sesorang yang belajar maenan ini ditanya mengenai maenan yang dipelajari maka secara tidak langsung nama cingkrig akan terbawa,seperti ketika ditanya : “lu belajar maenan apean? Kemudian akan dijawab maenan Bang Sinan.Maenannye kaye gimane?maenannye yang ade jurus cingkrignye.” Atau “ lu belajar apean? Belajar jurus cingkrig” yang mana akhirnya kata cingkrig ini menjadi identitas maenan ini dan menjadi terkenal dengan nama CINGKRIG.
    Ada beberapa kesimpulan umum dari silat betawi cingkrig ini, yakni:

* Filosofi menyerang adalah bertahan dan bertahan dengan menyerangnya yang tercermin dalam 12 jurus cingkrig. Tangan yang satu bertahan, tangan yang lain simultan atau sekuensial langsung melakukan penyerangan. Kaki yang satu bertahan, kaki yang lain digunakan untuk menyerang.
* Kuda-kuda rendah dengan pergerakan cepat dan lincah menjadi ciri dari maenan ini.
* Perkembangannya yang unik seiring dengan waktu. Di Rawa Belong ada istilah: "Jangankan beda daerah/wilayah, beda gang saja cingkrig yang dipegang/dipelajari bisa berbeda." Sehingga bisa jadi antara cingkrig daerah A berbeda dengan daerah B, itupun cenderung lebih disebabkan karena variasi kembangan (perkembangan jurus) dan/atau kelebihan atau kekurangan dari individu masing-masing. Misal ada yang jurus 1-nya terlihat bagus sekali, tapi jurus 2-nya biasa sekali, lebih kurangnya seperti itu. Namun biasanya tetap ada beberapa keunikan gerak atau filosofi tersendiri.

* Biasanya semuanya akan "sepakat" menyebut bahwa cingkrig identik dengan Rawa Belong, terlepas dari dinamika yang terjadi mengenai masalah “keaslian”. Hal ini adalah karena memang cingkrig tercipta - tumbuh - berkembang - dan berpusat di Rawa Belong. Karena menurut informasi , Ki Maing sendiri adalah orang/warga/penduduk yang tinggal di Rawa Belong.

   Ki Maing menurunkan Maen Pukul ini kepada murid- muridnya, di antaranya yang di kenal : Ki Saari, Ki Ali, dan Ki Ajid.
Tidak banyak kisah mengenai ketiga murid dari Ki Maing tersebut hanya saja diketahui bahwa ketiga murid beliau tersebut memiliki keistimewaan masing-masing.
*Ki Saari
Beliau  hanya dikenal sebagai murid dari Ki Maing dengan keistimewaan gerakan tangan yang sangat cepat,terutama gerakan menotok.Keistimewaan ini adalah untuk menutupi kekurangan beliau dalam menggunakan kaki karena kaki beliau setengah lumpuh.Jalur Ki Saari ini tidak diketahui siapa penerusnya.

#Menurut sebagian riwayat ada yang mengatakan bahwa jalur Ki Saari diteruskan oleh Kong Wahab dan keturunannya.Wallahu A'lam


*Ki Ali
Beliau dikenal sebagai guru cingkrig yang mengajarkan silat cingkrig kepada orang luar kampung Rawa Belong,murid-murid beliau adalah orang –orang dari kampung sekitar Rawa Belong,diantara murid beliau yang terkenal adalah :
-Kong Sinan:Beliau mengembangkan cingkrig di daerah Kebon Jeruk tetapi murid beliau tersebar dibanyak kampung lain seperti Tanah Abang,Karet Tengsin,Mampang dan lain-lain.Di antara murid dari kong Sinan adalah :Kong Kelek ( Syatiri) daerah Kebon Jeruk,Kong Ayar dan Kong Abu Hasyim daerah Karet,Kong Ma’ruf dan Kong Rodani daerah Mampang  dan masih banyak lainnya.
-Kong Goning:Beliau mengembangkan cingkrig di daerah Kemanggisan,kedoya,pejuangan dan sekitarnya,diantara murid beliau adalah Kong Usup Utay,Kong Tabrani,Kong Amsir, Kong Hamdan(nama asli beliau Romli) nama Hamdan muncul karena beliau sering memimpin rekan-rekannya sehingga dipanggil “bang Ndan” kependekan dari komandan yang akhirnya nama beliau lebih dikenal sebagai bang Ndan,karena lebih sering dipanggil bang Ndan akhirnya banyak orang yang lupa nama aslinya sehingga kemudian hari beliau lebih dikenal dengan nama Hamdan.dan lain-lain.Wallahu A'lam


-Kong Sakam:Beliau mengembangkan cingkrig di wilayah Depok.
-Ki Legod:Beliau mengembangkan cingkrig di wilayah Muara Angke,Pesing dan sekitarnya.

*Ki Ajid
Beliau mengajarkan cingkrig di kampung Rawa Belong,murid beliau tidaklah banyak hanya ada dua orang yang kami ketahui.Hal ini kemungkinan karena kerasnya beliau dalam mengajar ,juga karena kesibukan beliau dalam mendampingi seorang ulama dari Rawa Belong ketika ulama tersebut mengajar di kampung lain.kedua murid beliau adalah :
-Kong Uming:beliau mengajarkan cingkrig di daerah Rawa Belong sebelah utara,diantara murid beliau adalah :Babe H.Nur Ali Akbar(Babe Nunung),Babe Hasan kumis,Babe Akib,Babe Suwarno Ayyub(Babe Warno),Babe Tarman dan Babe Aman.

 
H Hayat,salah satu murid Ki Ajid
-Kong Ayat (H Hayat) :beliau mengajarkan cingkrig di daerah Rawa Belong sebelah selatan,diantara murid beliau adalah :Kong Acik(Munasik bin Hamim),Kong Wahab,Kong Majid dan Kong Jayani.
   Jadi secara umum aliran cingkrig itu ada dua jalur utama yaitu : Jalur Ki Ali yang mengembangkan diluar Rawa Belong kami menyebutnya “cingkrig Kebon Jeruk” dan jalur Ki Ajid yang mengembangkan cingkrig di Rawa Belong kami menyebutnya “cingkrig Rawa Belong” .Dari kedua jalur inilah kemudian menjadi beberapa perguruan dengan berbagai variasi pengembangan  mengikuti karakter para praktisinya namun tetap akan terlihat dari jalur mana perguruan tersebut.Selama ini sering terjadi kesalah fahaman dengan menyatakan bahwa cingkrig itu ada dua jalur yaitu jalur Kong Goning dan jalur Kong Sinan,yang benar adalah jalur Ki Ali dan jalur Ki Ajid,sebab Kong Goning dan Kong Sinan serta Kong Sakam dan Ki Legod adalah berasal dari satu jalur yaitu jalur Ki Ali, sedangkan Kong Ayat dan Kong Uming dari jalur Ki Ajid.Hanya saja masing-masing guru tersebut akhirnya juga memiliki ciri tersendiri tetapi tidak keluar dari ciri guru mereka.   
Silat cingkrig memiliki 12 jurus yang urutan maupun namanya bisa saja terjadi perbedaan antara perguruan yang satu dengan yang lainnya hal ini bisa terjadi karena berbagai macam sebab,tetapi jika diperhatikan dengan seksama maka akan terlihatlah keseragaman didalam jurus-jurus tersebut yaitu berupa inti dari jurus yang bersangkutan.
Untuk membedakan antara jalur ki Ajid dengan jalur ki Ali bisa dilihat dari nama-nama jurusnya selain dengan melihat jalan jurusnya,diantaranya :
*Jurus pertama jalur ki Ajid adalah jurus beset,sedangkan jalur ki Ali jurus cingkrig
*Dalam jurus jalur ki Ajid ada jurus satu kurung,jurus singa,jurus macan yang tidak dimiliki oleh jalur ki Ali.
*Dalam jurus jalur ki Ali ada jurus singa deprok,singa beset/singa tonjok/singa pukul,jurus tedeng yang tidak dimiliki oleh jalur ki Ajid,tapi kemungkinan jurus tedeng adalah jurus longok dalam jalur Ki Ajid
 Demikian mengenai sejarah cingkrig dan tokoh-tokoh yang mengembangkan maenan ini berdasarkan pengetahuan kami yang hanya sedikit,mungkin disana sini masih banyak kekurangan dan kesalahan baik yang terjadi karena ketidak sengajaan maupun karena kebodohan dari penulis,oleh karena itu sudilah bagi yang mengetahui dimana letak kesalahan itu untuk memperbaikinya.
tulisan ini bersumber dari diskusi sahabat silat dan beberapa praktisi cingkrig yang pernah ditemui penulis.terima kasih buat para sahabat silat dan juga praktisi cingkrig yang ikut berpartisipasi sehingga terwujudlah tulisan ini.
Terima Kasih
Jakarta,4 Desember 2013
Abay ibnu Shidiq
Praktisi cingkrig di Rawa Belong

1 komentar: