Selasa, 23 Mei 2017

PPSB CINGKRIG GERAK CIPTA



                                   
               CINGKRIG GERAK CIPTA
   Cingkrig gerak cipta adalah sebuah perguruan silat aliran cingkrig  di daerah tempat lahirnya cingkrig yaitu di Rawa Belong nama resmi dari perguruan ini adalah : “perguruan pencak silat betawi cingkrig gerak cipta”(PPSB CGC).Guru besar dari perguruan ini adalah Babe Amri H Abbas.
   Silsilah keilmuan Cingkrig Gerak Cipta adalah sebagai berikut:Babe Amri belajar cingkrig dan mendapat izin untuk mengajar dari Kong Acik yang belajar dan mendapat izin mengajar dari Kong Ayat yang merupakan salah satu murid dari Ki Ajid yang mendapat izin mengajar dan mengembangkan maenan cingkrig dan Ki Ajid belajar serta   memperoleh izin mengajar dari guru beliau yaitu Ki Maing .Gerak Cipta adalah nama yang diberikan oleh kong Acik ketika ditanya tentang nama silat ini.Oleh sebab itu nama ini tetep dipakai sebagai nama perguruan hingga saat ini.





KO NG ACIK (MUNASIK BIN HAMIM)

   Kong Acik pertama kali belajar cingkrig dari kong Ayat,kemudian karena kemauan dan bakatnya yang luar biasa maka beliau juga memperdalam silat cingkrig kepada guru-guru lainnya seperti kepada Ki Ajid,Ki Saari dan juga Ki Ali.Di samping itu beliau sering bersilaturahim kepada ahli beladiri lainnya baik yang beraliran cingkrig maupun aliran lainnya bahkan ahli beladiri yang beliau datangi bukan saja mereka yang menguasai silat tetapi termasuk juga mereka yang ahli beladiri karate,taekwondo,kuntaw dan lain-lain.Dan pada akhirnya beliau mengembangkan cingkrig yang beliau pelajari dengan beberapa tekhnik yang beliau dapatkan ketika bersilaturahim dengan para praktisi beladiri tersebut.Dari hasil pengembangan Kong Acik ini maka nama Gerak Cipta ditambahkan dibelakang nama Cingkrig sebagai identitas/ciri dari aliran Cingkrig jalur ini.




AMRI H ABBAS
 Babe Amri pertama kali belajar cingkrig dari kong Ayat,kemudian mempelajari cingkrig pula dari murid-murid kong Ayat yaitu kong Jayani,kong Majid dan kong Acik.Kong Acik adalah orang yang berperan dalam menyempurnakan keilmuan cingkrig yang dimiliki oleh babe Amri serta dari beliau pula babe Amri mendapat mandat untuk mengajarkan cingkrig. Pertama kali babe Amri mendapat izin untuk mengajar adalah pada tahun 1980 dengan dua orang kakak beradik yang saat itu masih sekolah sd menjadi murid pertama beliau,kedua murid beliau itu adalah bang Huzail(bang Zay) dan bang Huzri(bang Ozi).


   Pada tahun pertama beliau mengajarkan cingkrig yang diajarkan adalah cingkrig yang belum seperti saat ini diajarkan di PPSB CINGKRIG GERAK CIPTA.Jadi yang diajarkan adalah jurus yang sama yang ada di Rawa Belong,pada saat itu jurus yang diajarkan babe Amri adalah sama dengan apa yang diajarkan oleh kong Ayat,kong Acik dan kong Uming.Baru pada tahun-tahun berikutnya babe Amri memasukan tambahan pengembangan jurus yang beliau dapatkan dari beberapa guru aliran cingkrig yang beliau sering temui.Setiap memberikan kembangan suatu jurus,beliau selalu menyebutkan gerakan ini guru A yang menambahkan,yang ini guru B yang menambahkan dan seterusnya.Bahkan terkadang kita diberitahukan tentang suatu gerakan mengikuti gaya salah seorang diantara guru-guru tersebut,misalkan gerakan 1,menurut guru A begini,guru B suka begitu,guru C suka agak begini dan lain-lain.Semua variasi gerak yang diajarkan di PPSB CGC adalah apa yang babe Amri dapatkan dari guru-guru beliau yang telah dibentuk sedemikian rupa oleh guru beliau yang  bernama Munasik bin Hammim (kong Acik) serta kong Acik pula yang memberi izin untuk mengajarkan dan menyebarkan ilmu ini.Mulai dari tahun 1980 hingga tahun 2010 tidak ada kurikulum yang baku dalam mengajarkan cingkrig ini,jadi bisa saja terjadi sedikit perbedaan dalam materi jurus yang diajarkan terutama adalah jurus yang merupakan kembangan dari jurus yang pertama kali diajarkan oleh babe Amri pada tahun pertama beliau mengajar.Jurus yang paling banyak mendapat pengembangan (tambahan) adalah jurus satu,padaa tahun pertama beliau mengajar jurus satu hanya terdiri dari gerakan beset gedor saja kemudian dilain saat beliau mengajarkan jurus satu dengan gerakan beset gedor yang telah ditambah gerakan pecahan dan seterusnya.Pada tahun 2010 beliau memberikan izin kepada beberapa muridnya untuk mengajarkan ilmu ini,maka hasil daripada kesepakatan mereka yang mendapat mandat untuk mengajarkan ilmu ini,disusunlah materi yang wajib diajarkan kepada murid yang mempelajari cingkrig gerak cipta.Gerak dasar yang semula tidak tersusun dan diajarkan hanya jika dirasa perlu saja,akhirnya disusun dan wajib diajarkan kepada murid-murid baru yang mempelajari cingkrig gerak cipta sebelum mereka memasuki materi jurus-jurus cingkrig yang berjumlah 12 jurus.Murid-murid babe Amri yang mendapat izin untuk mengajar adalah :
 1. Huzail M Shidiq atau yang biasa dipanggil bang Zay,beliau adalah murid pertama babe Amri.
2. Aan subhan (bang Aan) saat penulisan ini bang Aan bertempat di kota Medan.
3.Muhammad Rijal (bang Ijal) anak dari babe Amri.
4.Balyah M Shidiq (bang Abay) yang meneruskan pelajaran cingkrignya hingga jurus 12 pada tahun 2001.
Empat orang inilah yang pada tahun 2010 memperkenalkan PPSB CINGKRIG GERAK CIPTA kekhalayak umum baik melalui omongan,ikut tampil dalam festival-festival maupun melalui media social.
   Demikianlah sekelumit sejarah yang bisa kami sampaikan mengenai cingkrig gerak cipta.Semoga apa yang kami sampaikan ini bisa bermanfaat untuk kita semua.


         TERIMA KASIH

             ABAY GCIS
Praktisi Cingkrig Rawa Belong




H DARIP,Pencipta Maenpukul TIGA MANIS



SekeLumit Tentang Pencipta Maen PukuL TIGA MANIS
PANGLIMA PERANG DARI KLENDER
Oleh Kholid Bin Walid pada 14 Juli 2012 pukul 15:17
Rabu, 01 Juni 2011
H. MUHAMMAD ARIF/H. DARIP (1886-1981)
H. Muhammad Arif atau biasa dipanggil H. Darip dilahirkan di Klender pada tahun 1886 dari pasangan H. Kurdin dan Hj. Nyai. Ia anak ketiga dari tiga bersaudara. Ia tidak menempuh pendidikan formal membaca dan menulis. Pelajaran membaca dan menulis huruf latin justru diperolehnya saat dipenjara dan belajar dari temannya. Dalam belajar agama, tidak diketahui kepada siapa H. Darip belajar agama akan tetapi ada kemungkinan ia belajar agama langsung kepada ayahnya.
Pada tahun 1914 ia pergi haji ke Makkah dan langsung menetap di sana untuk memperdalam ilmu agama hingga kurang lebih dua tahun setengah (1916). Pulang dari Mekah, H. Darip mengawali perjuangannya dengan berdakwah di sebuah mushalla kecil, yang kini menjadi Masjid Al-Makmur yang cukup megah di Klender dan berjuang bersama para ulama lain, yakni KH Mursyidi dan KH Hasbiallah. Selain dikenal sebagai da’i, ia juga seorang yang memiliki ilmu main pukulan (ilmu silat) yang lihai. Ia adalah seorang tokoh yang disegani masyarakat, daerah kekuasaannya mencakup Klender, Pulogadung, Jatinegara hingga sampai Bekasi.
Pada saat terjadi revolusi fisik melawan Jepang dan Belanda, H. Darip membentuk BARA (Barisan Rakyat). Ia mengumpulkan para tokoh, pemuda dan jagoan yang tersebar di Klender dan sekitarnya. Di antara mereka yang ikut bergabung adalah H. Hasbullah (Kakak dari KH. Hasbiyallah) dan KH. Mursyidi. Mereka terlibat dalam pertempuran di beberapa front di kota Jakarta. H. Darip sendiri saat itu dijuluki "Panglima Perang dari Klender". Sebuah brosur dari Angkatan 45 DKI tanggal 17 Agustus 1985—empat tahun setelah Haji Darip meninggal dunia—menyebutkan, H. Darip pada zaman penjajahan Belanda (sebelum perang dunia kedua), berjuang bersama Soekarno bergerak di bawah tanah, terutama di Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Ketika pendudukan Jepang, menyaksikan kekejaman pasukan Dai Nippon ini, H. Darip memimpin masyarakat di Klender dan menghimpun para jawara, narapidana dan napi Rutan Cipinang untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang. Sewaktu dia masih memimpin pergerakan dari Klender, banyak para pemimpin yang datang bahkan menginap di kediamannya, di antaranya Soekarni, tokoh Murba, Kamaludin, Syamsuddin orang Padang, dan Pandu Kartawiguna. Mereka menginap di rumah H. Darip dan menyatakan kepadanya bahwa sebentar lagi Indonesia akan merdeka dan mereka membicarakan pengusiran orang Jepang.
Anak buah H. Darip yang tergabung dalam BARA dimandikan oleh H. Darip kemudian diisi badannya dengan ilmu kebal lalu dicoba dengan dibacok badannya dengan golok. Setelah dirasa memiliki ilmu kebal maka pasukan BARA diperbolehkan untuk berjuang mengusir Jepang. H. Darip memerintahkan anak buahnya untuk menyerbu dan mengusir tentara Jepang di Pangkalan Jati, Pondok Gede, Cipinang Cempedak, sepanjang Kali Cipinang dan lain-lain. Anak buah H. Darip bahkan sampai membunuh tentara Jepang. Hal tersebut dilakukan oleh anak buah H. Darip karena jika tentara Jepang tidak dibunuh maka anak buah H. Darip yang terbunuh karena tentara Jepang mempunyai senjata api sedang anak buah H. Darip hanya mempunyai kekuatan fisik dan golok saja. Beberapa sumur di Klender dan sekitarnya tidak ada yang mau minum airnya karena penuh dengan bangkai tentara Jepang, begitupula dengan sungai Sunter yang dipenuhi dengan mayat tentara Jepang.
Setelah berhasil mengerahkan rakyat yang dihimpun dan dipimpinnya untuk menghabiskan tentara Jepang yang bertugas di pinggiran, maka H. Darip menyadari bahwa kekuatan rakyat tidak akan berarti jika tidak dilengkapi dengan peralatan senjata, logistik dan persediaan makanan. Kira-kira seminggu sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, H. Darip mendatangi Camat Klender dan meminta segala pakaian rakyat yang akan dibagikan jangan dikeluarkan sebelum saatnya tiba dan menunggu komando darinya.
H. Darip juga mendatangi kantor polisi yang masih di bawah kekuasaan Jepang. Ia meminta supaya senjata-senjata yang ada di kantor polisi jangan diserahkan kepada Jepang, melainkan harus diserahkan kepada rakyat nanti. Lalu H. Darip menyuruh komandan polisi membuat pernyataan dan membubuhkan tanda tangannya untuk menyerahkan senjata kepada rakyat. Kemudian H. Darip pergi ke Seksi Tujuh. Ia bertemu dengan Darmatin dan Juhra anak Banten dan Sukahar dan meminta kepada mereka agar persenjataan yang ada di sana diserahkan kepada rakyat. Kemudian H. Darip menuju penjara Cipinang. Direkturnya diberi tahu hal yang sama dengan apa yang dikatakan pada Camat, Kepala polisi maupun Komandan Seksi VII. Pada saatnya pula nanti H. Darip meminta agar para tahanan dilepaskan. Ia juga datang ke Seksi V dan melakukan hal yang sama.
Hari Proklamasi makin dekat dan keadaan makin panas saja. Tetapi dia telah mempersiapkan anak buahnya. Dia juga mendatangi gudang-gudang beras di Klender untuk memblokir beras yang ada jangan sampai keluar dari Klender. Maka jadilah Klender wilayah pertahanan yang merupakan gudang makanan dan persenjataan ala kadarnya.
H. Darip mempersiapkan hal tersebut di atas setelah mendapat informasi dari Soekarni bahwa Indonesia sebentar lagi akan merdeka. Informasi itu diperoleh ketika terjadi serangan bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada 9 Agustus 1945 oleh Amerika Serikat atas perintah Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman. Setelah pengeboman tersebut maka pada 15 Agustus, Jepang mengumumkan bahwa Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Berita ini diketahui oleh kalangan pemuda bangsa Indonesia melalui berita siaran radio BBC (British Broadcasting Corporation) London. Pada saat yang sama Soekarno dan Hatta baru kembali ke tanah air memenuhi panggilan Panglima Mandala Asia Tenggara, Marsekal Terauchi di Saigon, Vietnam.
Saat kembali ke tanah air, Soekarno ditemui para pemuda untuk membicarakan kemerdekaan Indonesia. Kemudian pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00 WIB, Soekarno dan Hatta "diculik" dan dibawa ke Rengasdengklok, Karawang oleh para pemuda di antaranya Soekarni, Chaerul Saleh dan lain-lain. Dalam peristiwa Rengasdengklok itu, H. Darip menjadi saksi hidup ketika para pemuda mendesak Soekarno Hatta agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
Kemudian Soekarno Hatta ditempatkan di suatu rumah yang tidak layak di pinggir kali. Lalu H. Darip meminta kepada Soekarni dan kawan-kawannya agar Soekarno Hatta di tempatkan di rumah yang layak karena Soekarno Hatta adalah calon pemimpin yang harus dihormati. Atas permintaan H. Darip maka Soekarni dan kawan-kawan menempatkan Soekarno Hatta di rumah perkampungan milik warga Tionghoa, Djiaw Kie Siong.
Pada waktu itu Soekarno dan Hatta menginginkan agar proklamasi dilakukan melalui PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) sementara golongan pemuda menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI yang dianggap sebagai badan buatan Jepang. Selain itu, hal tersebut dilakukan agar Soekarno dan Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Para golongan pemuda khawatir apabila kemerdekaan yang sebenarnya merupakan hasil dari perjuangan bangsa Indonesia, menjadi seolah-olah merupakan pemberian dari Jepang.
Setelah melalui perundingan yang panjang akhirnya disepakati bahwa proklamasi kemerdekaan dilaksanakan pada 17 Agustus di Jakarta kemudian bendera Merah Putih dikibarkan para pejuang di Rengasdengklok pada Rabu tanggal 16 Agustus, sebagai persiapan untuk proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Pada akhirnya, tepatnya hari Jumat, 17 Agustus 1945 atau bertepatan dengan 09 Ramadlan 1364 H, Soekarno dan Muhammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia. Proklamasi kemerdekaan tersebut disambut suka cita oleh seluruh rakyat Indonesia, tak ketinggalan rakyat yang berada di Klender dan sekitarnya. Setelah proklamasi kemerdekaan, Soekarno berkunjung ke Klender dan memimpin rapat akbar di sana serta meminta rakyat Klender ikut membantu mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Selanjutnya H. Darip memerintahkan rumah-rumah di Klender menaikkan bendera merah putih. Pabrik-pabrik di Klender, Cipinang, Jatinegara dan lain-lain diperintahkan mengganti bendera Jepang dengan merah putih. H. Darip juga meminta agar pabrik tidak mengeluarkan beras kecuali untuk makan laskar rakyat. Setelah berhasil menghimpun senjata, makanan dan pakaian, H. Darip memerintahkan anak buahnya untuk menjaga ketat wilayah Klender agar tidak dimasuki tentara Jepang atau mata-mata Jepang.
Setelah Jepang menyerah dan kembali ke negerinya, Belanda dan tentara sekutu berusaha kembali menjajah Bangsa Indonesia. H. Darip bersama pasukan BARA bersiap-siap untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia sebagaimana yang diamanatkan oleh Soekarno saat rapat akbar di Klender.
Pada suatu penyerangan, Klender berhasil diduduki Belanda dan sekutu sehingga H. Darip dan pasukan BARA hijrah ke beberapa tempat seperti Tambun, Cikarang, Lemah Abang, Bekasi, Cikampek, Karawang hingga ke Purwakarta dan membentuk BPRI (Barisan Pejuang Rakyat Indonesia) Jakarta Raya. Dari tempat persembunyiannya—dengan pangkat Letnan Kolonel Tituler—ia bermarkas di Purwakarta dan menyusun strategi melawan NICA Belanda.
Suatu ketika benteng pertahanan di Purwakarta diserang oleh Belanda melalui hujan bom dan peluru dari udara dan darat sehingga H. Darip dan pasukannya harus mengungsi ke hutan. Perjalanan ke hutan sangat memprihatinkan, terlebih di antara 4 (empat) isteri H. Darip ada yang sedang hamil dan ada yang mempunyai bayi yang masih kecil. Mereka harus turun naik bukit, menyebrang sungai dan menahan lapar dan dahaga. Jika rasa lapar dan dahaga tidak tertahankan mereka singgah ke rumah penduduk setempat untuk meminta makanan dan minuman. Di kemudian hari untuk keselamatan anak dan isteri-isterinya, H. Darip mengirimkan mereka ke Klender dan berpesan agar tidak memberitahukan kepada siapapun tentang posisi H. Darip dan pasukannya.
Pada saat memasuki bulan puasa, H. Darip dan pasukannya tetap berpuasa dan berjuang melawan Belanda. Mereka dari Parakan Lima menuju hutan Cempaka, hutan Bendul, Kembang Kuning dan Cibatu. Di hutan Cempaka H. Darip menghimpun kekuatan dan mengatur strategi untuk menyerang musuh. Pertahanan Belanda di Purwakarta kerapkali dibuat panik oleh serangan mendadak yang tidak terduga di malam hari atau menjelang subuh hingga suatu ketika Jayusman, anak buah H. Darip yang berasal dari Banten tertangkap. Ia ditembak tetapi tidak mempan dan akhirnya ia tewas setelah dipulir kepalanya.
Belanda berusaha keras untuk menangkap H. Darip akan tetapi usaha itu sia-sia. Bahkan Belanda menjanjikan hadiah besar bagi orang yang bisa menangkap H. Darip. Pada akhirnya Belanda mengirim mata-mata untuk bergabung dan menjadi anak buah H. Darip. Tersebutlah Jami dan Sarosa yang menjebak dan membujuk H. Darip agar pergi ke Jogjakarta untuk kembali dekat dengan Soekarno. Sejak Januari 1946 Ibukota memang pindah dari Jakarta ke Jogjakarta.
Sarosa berangkat mendahului. Kemudian menyusul H. Darip, Jami dan Entong, anak perawat kuda yang berumur 13 tahun. Ketika malam hari melewati hutan Jati, Sadang Purwakarta H. Darip disergap Belanda. H. Darip diikat erat dengan kabel listrik dan dibawa memakai mobil Jeep. Jami tidak terlihat ditangkap. Akhirnya ia menyadari bahwa ia dijebak dan dikhianati oleh Jami. Dari Sadang H. Darip dibawa ke Jakarta kemudian dimasukkan ke sel Polisi I Kebayoran selama tiga hari lalu dipindah ke Ancol. Dalam kondisi tetap diikat dengan kabel listrik, H. Darip disiksa dengan gagang senapan dan dipukul bertubi-tubi sampai akhirnya H. Darip dijebloskan ke tahanan Glodok, Jakarta Kota (kini merupakan bagian dari pertokoan Harco) pada tahun 1948.
Berita tertangkapnya H. Darip sampai ke anak buahnya. Mereka sangat marah ternyata pimpinannya tertangkap karena dijebak dan dikhianati oleh Jami. Kemudian anak buahnya mencari-cari Jami hingga akhirnya Jami ditangkap dan tewas dibunuh oleh anak buah H. Darip yang setia.
Pada akhir tahun 1949 H. Darip menulis surat kepada Soekarno agar ia dibebaskan dari penjara. Konon surat tersebut diterima oleh Fatmawati, istri Soekarno di Istana Negara. Tetapi Soekarno tidak bisa membebaskan H. Darip. Setelah penyerahan kedaulatan pada akhir Desember 1949, H. Darip akhirnya dibebaskan dari penjara. Para anak buahnya yang hampir 100 orang menyambut H. Darip di luar penjara dan membawa ke rumah Ghozali di Kebon Jahe kemudian ke Klender. Rumahnya di Klender sudah habis dibakar oleh Belanda saat ia di penjara. Lalu bersama-sama anak buahnya dan rakyat Klender secara gotong royong membuat rumah sederhana untuk H. Darip.
Pada Mei atau Juni 1950 H. Darip dipanggil Soekarno ke Istana Cipanas. Ia dijemput oleh Letnan Ishaq Latief. Dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh Menteri Pertahanan Hamengkubuwono. Soekarno menyambut dan memeluk H. Darip sambil menangis. Soekarno lalu menjelaskan surat H. Darip yang dikirimkan untuknya. Soekarno merasa yakin bahwa H. Darip akan bebas dan tidak akan mati di penjara.
Pada tahun 1950 ketika keamanan Jakarta belum sepenuhnya stabil, foto H. Darip terjual habis. Masyarakat Jakarta, khususnya Klender dan terutama keturunan Cina akan merasa aman jika rumahnya terpampang foto H. Darip. Para pencoleng dan gerombolan penjahat tidak akan menggangu rumah atau toko yang terpampang foto H. Darip.
H. Darip adalah rakyat biasa yang kemudian memimpin rakyat untuk melawan dan mengusir penjajah. Ia memiliki wibawa sehingga bisa menggerakan api semangat perlawanan terhadap penjajah. Ia juga berjuang tanpa pamrih sehingga ia tidak memperdulikan gelar veteran dan pahlawan. Di akhir masa hidupnya, ia menghabiskan waktu untuk berdakwah di Klender dan sekitarnya untuk mengamalkan ilmu yang ia dapat saat belajar di Makkah.
H. Darip meninggal di Jakarta pada 13 Juni 1981 dan dimakamkan di Pemakaman Wakaf Ar-Rahman Jalan Tanah Koja II, Jatinegara Kaum, Pulogadung Jakarta Timur bersebelahan dengan makam salah satu istrinya, Hj. Hamidah.
SUMBER
Judul Buku:
ULAMA BETAWI
(Studi Tentang Jaringan Ulama Betawi dan Kontribusinya Terhadap Perkembangan Islam Abad ke-19 dan 20).
Penulis: Ahmad Fadli HS
Penerbit: Manhalun Nasyi-in Press, Jakarta, 2011

Moluccans Fighting System-KAPISTA

Salah satu program beladiri yang ada di Jakarta Martial ArtsAcademy adalah Kapista – Sistem Beladiri Maluku yang dalam Bahasa Inggris diartikan sebagai ‘Moluccans Fighting System – Kapista’.
Pada kisaran tahun 2011, diawali dengan keinginan parafounder nya yaitu Michael Sahertian dan Muhtar Waesaleh (Michael Sahertian merupakan murid Ju Jitsu dari Muhtar Waisaleh) untuk memberikan suatu sistempelatihan beladiri yang tepat pada sasaran tanpa mengesampingkan filosofi dasardari beladiri itu sendiri, maka dibentuklah KAPISTA (atas saran Saudara ChelloHekkers). Kapista sebenarnya adalah ungkapan ejekan bagi perempuan di daerahMaluku yang menunjukkan bahwa perempuan tersebut sangat-sangat ‘bocor’.
Kira-kira di pertengahan tahun 2014, Michael Sahertian bertemu dengan Saudara Galih Iman, dimana Galih Iman adalah seorang praktisi silat yang walaupun usianya masih terbilang muda tetapi sudah melakukan riset tentang berbagai aliran silat di tanah air.
Pertemuan tersebut menyadarkan Michael Sahertian akan pentingnya melestarikan budaya bangsa dalam hal ini beladiri, sehingga setelah melakukan konsultasi dengan Muhtar Waisaleh sebagai salah satu pendiri Kapista, dilakukanlah beberapa modifikasi dan perubahan baik dalam teknik, logo maupun nama dari Kapista itu sendiri yang dilakukan setelah kepulangan Saudara Michael Sahertian dari Tanah Negeri Samasuru Amalutu Poru Amarima untuk meminta ijin dari  Bapa Raja Negeri serta Bapa Kepala Soa Sahertian untuk melestarikan budaya Maluku, maka pada tanggal 15 Februari2015, secara resmi KAPISTA dinyatakan oleh para Founder nya sebagai Sistem Beladiri Maluku yang Pertama Kali di perkenalkan bagi Indonesia dan dunia.
Berikut adalah perubahan nama dan teknik2 yang terkandung dalam Kapista mulai dari tahun 2011 s/d 2015 :
Pertengahan tahun 2011 merupakan tahun awal berdiri dan disebut sebagai KAPISTA sebagai kependekan dari Kombat Art for Protection Against Random Attack dengan format teknik menekankan pada Sistem Beladiri Praktis dan "Close Quarter Combat" menggunakan tangan kosong dan 'alternate weapon' saat itu KAPISTA adalah penyederhanaan dari teknik-teknik Ju Jitsu digabungkan dengan teknik-teknik dasar tinju.
Pada awal 2012 - pertengahan tahun 2013, KAPISTA menjadi 'Kapista Combat Art'
Kira2 di pertengahan tahun 2013 menjadi Kapista - Hybrid Fighting System
dari tahun 2011 sampai tahun 2014 walaupun terjadi perubahan nama tapi tidak ada perubahan dalam teknik dan pola latihan.
November 2014 sudah terjadi sedikit perubahan dimana unsur budaya Maluku dalam tarian Cakalele mulai masuk.
15 Februari 2015 - Logo Baru diperkenalkan kepada umum sekaligus mengukuhkan sebagai Sistem Beladiri Pertama dari Maluku yang diperkenalkan kepada masyarakat luas dan mempergunakan nama 'Sistem Beladiri Maluku - KAPISTA' ATAU 'Moluccans Fighting System - KAPISTA'

Sumber: tulisan bung mike di fb https://mobile.facebook.com/notes/michael-sahertian/moluccans-fighting-system-kapista/10153054717348405/?refid=21&_ft_=top_level_post_id.10153054717348405&fbt_id=10153054717348405&lul&ref_component=mbasic_photo_permalink_actionbar&_rdr#s_a73565cbd2a77c550257ab706220853b

17 Gerak Dasar Cingkrig Gerak Cipta

Assalamualaikum Wr Wb
Apa kabar saudara-saudaraku? Dalam postingan kali ini saya akan menuliskan nama-nama gerak dasar dalam kurikulum pembelajaran di perguruan pencak silat betawi cingkrig gerak cipta dan diakhir postingan saya tautkan pula video 17 gerak dasar PPSB CGC dari youtube semoga bermanfaat.
Salam silaturahim

 
Dalam kurikulum perguruan pencak silat betawi cingkrig gerak cipta sebelum seorang murid diajarkan 12 jurus cingkrig maka mereka akan diajarkan 17 gerak dasar cingkrig gerak cipta.17 Gerak Dasar Cingkrig Gerak Cipta adalah 17 belas gerakan yg di ajarkan kepada murid yg baru mempelajari Cingkrig Gerak Cipta,yg berpungsi untuk melatih kuda-kuda dan kelenturan,juga bisa di gunakan untuk pemanasan sebelum latihan jurus.
17 gerak dasar ini di susun dengan mengikuti jurus yg telah ada,jadi ketika seseorang belajar jurus,ia sebenarnya hanya merangkai beberapa gerak dasar menjadi satu kesatuan di tambah gerak langkah, berikut adalah urutan dan nama gerak dasar cingkrig gerak cipta:

Nama-nama 17 gerak dasar:

1.beset tarik
2.beset gedor
3.pasang pukul
4.cingkrig
5.sangkol
6.rambet
7.rimpes
8.saup
9.kodek
10.seser
11.gobrek/kosrek
12.tiktuk
13.bendrong
14.lokbe
15.singa
16.macan
17.longok
Demikian sekilas tentang gerak dasar cingkrig gerak cipta.
   


 berikut ini adalah
 video gerak dasar PPSB CINGKRIG GERAK CIPTA


Nasehat buat yang mao belajar silat tradisi

Sebuah tulisan ringan yang menurut kami sangat bagus sekali untuk mereka yang berniat mempelajari silat tradisi . Terima kasih sebesar-besarnya buat kang Iwan setiawan yang mengizinkan kami mengcopy tulisan beliau.Mari sama-sama kita simak dan ambil manfaat dari tulisan ini.

 Copy paste tulisan kang iwan,semoga bermanfaat
Hanya Ini yang Bisa Kubagi
20 Mei 2011 pukul 0:45
By.Iwan Setiawan.
Nasehat Pesilat Ketika Anaknya Hendak Belajar Silat Pada Orang Lain
Nak, jika engkau hendak berguru silat pada seseorang hendaknya kau cam ini ;
Jika kau telah hendak datang kepadanya,
berarti setidaknya kau telah mempercayainya, jagalah kepercayaan itu
Jika kau telah sampai ke tempatnya
Berarti kau sudah telah ada niat untuk belajar
Maka rendahkanlah dirimu di hadapannya karena kau datang untuk menjadi muridnya
Jika pada waktunya sampai kau belajar dan menerima pelajarannya
Namun kau pernah tahu dan lihat, anggaplah itu latihan mengingat apa yang telah kau ingat. Jangan menganggap dirimu telah hebat, tetaplah hormat padanya
Jika belum, janganlah kau anggap remeh, karena kadang hal remeh dapat mencelakakan seperti halnya kebocoran kecil pada kapal besar
Tetaplah jujur pada dirimu
Andaikan yang kau jadikan guru bertubuh kecil dan telah berumur lanjut maka tetap hormatlah padanya tanpa harus melihat hal itu.
Begitu juga jika gurumu bertubuh tinggi besar dan tegap dan berumur tak jauh darimu, tetaplah hormat layaknya murid
Berpikirlah baik dan ambil pengandaian yang setara dalam benakmu
Andai saja kau merasa lebih kuat dan tubuhmu lebih besar daripadanya namun ia mahir dalam berjurus, maka lihatlah dan rasakan pada dirimu dan teruslah berpikir, ” jurus orang yang lebih kecil ini mampu menahan yang lebih besar, bagaimana jika aku yang besar menguasainya?”
Jikalau ia telah tua dan berumur maka berpikirlah,”setua ini masih begitu bagus dan mampu mahir dalam berjurus apalagi saat muda dulu?” dan berpikirlah,” sanggupkah dirimu sepertinya saat setua itu?”
Kalaupun gurumu itu muda, kuat dan berbadan tegap melebihimu maka tetaplah berbaik pikir dan sangka, dan tetapkan dalam hatimu,”aku harus sekuat dan semahir dia jika belajar ini nanti”
Pada saatnya nanti kau akan temui hal yang baru yang belum pernah kau alami dan terasa asing
Tanyakanlah dengan niatan tulus bertanya dengan tidak menghakimi
Banyak hal berbentuk perlambang yang akan kau temui sebagai bentuk kesantunan dan tata krama adab timur maka datanglah sebagai orang yang mencoba mafhum dan memahaminya
Andai gurumu meminta sebutir telur sebagai syarat menjadi murid, pahamilah bahwa kau datang sebagai “telur’ yang harus dierami hingga tumbuh menjadi ayam yang memerlukan induk. Jika makna simbolis ini tak juga kau pahami, anggaplah telur itu untuk lauk teman makan gurumu yang dapat memberi protein sebagai asupan gizi di sarapan paginya.
Bisa jadi kau akan temui guru yang mensyaratkanmu membawa pisau tumpul atau mungkin juga meminta pisau yang tajam. Maka pahamilah bahwa kau datang memang “tumpul” dalam keilmuan yang belum kau pelajari darinya, ikhlaslah kau di”asah” olehnya. Namun jika meminta pisau tajam, maka itu berarti pemberian pisau tajam itu bermaksud memotong ke“aku”an dan kesombonganmu, ikhlas kau jika ditegur dan dinasehatinya. Namun jika kau tak juga mau mengerti kedua hal ini, tetaplah berbaik sangka. Mungkin gurumu memang memerlukan pisau entah untuk dapur atau keperluan lainnya. Tak susah memberikan sepotong pisau padanya bukan?
Atau ada syarat yang meminta garam dan cabai merah, itu memiliki makna bahwa kau jika belajar di silat harus hingga ke “rasa” dan jangan kepalang tanggung. Jika harus asin maka haruslah seperti garam di laut atau jika pedas maka harus bagaikan cabai merah. Tapi jika dalam benakmu ada perasaan “menolak” meski secuil karena urusan rasional maka berpikirlah, guru hanya meminta cabai dan garam… mungkin ia memerlukannya. Penuhilah karena hal itu mudah….
Jika ia meminta syarat kembang tujuh rupa dan kau harus dimandikan saat malam selesai berlatih dan pemahamanmu tak sampai hingga masalah energi dan hubungan antara kembang-kembang dalam air itu untuk apa, maka anggaplah itu agar kau segar dan tak lagi berbau keringat setelah selesai belajar silat dan tetaplah berpikir jernih mungkin jaman guru dari guruku dulu belum ada sabun. Dan anggaplah itu sabun alami yang baik ketimbang yang terbuat dari bahan kimia.
Jika ada permintaan selembar kain untuknya maka pahamilah bahwa memang seharusnya murid memberikan kebutuhan pakaian sang guru, jika kau berlebih belikanlah pakaian yang terbaik untuk gurumu.
Jika kau dapati ia meminta beras secupak atau setanggang… pahamilah bahwa memang sepantasnya dan seharusnyalah murid dalam menuntut ilmu tak boleh mengganggu kebutuhan dapur sang guru, maka penuhilah kebutuhan hariannya jika kau sanggup. Jangan meremehkan permintaannya yang hanya meminta beras secupak apalagi menertawakannya dengan menganggap betapa “murah”nya belajar padanya, tidak nak… ilmu silat itu sangat berarti dan tak ternilai, ketika kau memberi gurumu beras yang sedikit itu dengan merendahkan dan menertawakannya berarti hargamu dan pemahamanmu hanya sampai beras secupak itulah, maka janganlah kau persempit pemikiranmu hanya sampai di sana.
Jika ia bilang padamu bahwa tak ada bayaran atau bayar seikhlasnya dalam belajar silat, maka pahamilah bahwa silat memang tak sepadan dengan nilai uang maka berikanlah yang terbaik.
Jika ia meminta seikhlasnya, janganlah kau anggap bahwa hanya sepeser dua peser uangmulah yang cukup untuknya. Namun ia meminta muridnya senang hati membantu gurunya. Maka berpikirlah kau dalam posisinya, manakah yang akan membuatmu ikhlas sebagai guru jika menerima lima puluh ribu atau lima juta? Tentunya kita akan sangat ikhlas menerima rejeki yang lebih besar. Maka ukurlah keikhlasanmu itu juga dengan keikhlasan menerima gurumu.
Jika tak mampu memberi besar maka berikanlah yang cukup. Jika kau tak mampu juga dengan materi, bantulah dengan tenagamu, pikiranmu dan pengabdianmu.
Jika kau dapati acara kecer, peureuh atau teteskan mata dengan air sirih maka berpikirlah bahwa memang diperlukan membersihkan matamu saat telah belajar silat jika kau tak mampu memahami hingga ke hal tersebut. Anggap itu sebagai perhatian gurumu pada muridnya.
Bilamana kau temui bahwa selesai belajar jurus gurumu mengurut / memijat tangan murid satu persatu dan seringkali dianggap sebagai “menurunkan elmu” maka jika kau tak mau berpikir demikian, tetaplah berpikir baik, itu mungkin salah satu kebaikan seorang guru untuk menghilangkan efek latihan seperti cidera atau pegal atau apalah yang ada di tangan muridnya, ia mau mengurut atau memijatnya. Dan jangan beranggapan dengan diurut kau bisa semua ilmu yang ada di gurumu dan tahu segalanya, karena dalam silat hanya mengenal yang terus belajar dan mengasah serta mengertilah yang akan tajam keilmuannya.
Jika ada yang bertentangan dengan apa yang kau tahu, janganlah lantas kau mencerca dan mencacinya di belakang. Akan tetapi tetaplah lihat dalam sisi baiknya. Kalau saja gurumu dalam pengetahuan agama Islam kurang dan menganggap bahwa ayat dan bacaan dapat menghalau ini itu, atau dengan “hanya” bismillaah dia dapat tak mempan dibacok. Janganlah lantas kau hakimi dia, renungkanlah bahwa dengan bismillaahnya orang yang berpengetahuan agama sedikit dibandingmu, kenapa mampu membukakan pintu langit hingga Allah melindunginya dari senjata tajam yang mengenai kulitnya? Terlepas dari bantuan jin atau apa, ini tetap adalah kebaikan Allah yang rahman pada mahluk-Nya. Belajarlah tentang apa yang menjadi keikhlasannya hingga mampu mengetuk pintu langit. Jika masih juga pikiranmu tak menerima hal ini, maka anggaplah…. Sungguh Maha Kuasa dan Maha Penyayang Allah pada mahluk-Nya, hingga semua yang tak mampu akal terima bisa kau lihat.
Agama kita tak pernah melarang menimba ilmu pada siapapun untuk kebaikan, meski yang akan kau pelajari membuat panah sekalipun atau pedang yang dalam benak setiap orang itu adalah alat untuk membunuh. Namun tidak demikian dalam hidup ini, nak. Panah mungkin untuk bisa untuk membunuh, namun banyak orang di hutan belantara sana yang memanah untuk kebutuhan makan yang akan menghidupi keluarganya yg jika mereka hidup dapat menjalankan kewajiban untuk Tuhannya. Pedang tak selamanya alat bunuh, kini banyak kau lihat itu sebagai alat perlambang status atau sekedar pajangan...
Jika kau murid yang baik dan lebih berpengetahuan agama lebih baik dari guru silatmu, perlihatkanlah segala kebaikan yang kau pelajari dari agama buatlah ia bangga kau jadi muridnya. Nantinya tak perlu kau ajari seseorang guru yang telah terpikat oleh kebaikanmu.
Jika gurumu berkata-kata, ingatlah. Jika ia memiliki kesalahan maafkanlah.
Jika ada terlihat jelek dan aib pada gurumu, jadikanlah pelajaran bahwa kau tak harus sepertinya, tetaplah ambil kebaikan yang ada padanya.
Tinggalkanlah yang jelek. Karena meski keluar dari tempat yang sama, telur ayamlah yang diambil oleh kita untuk makan ketimbang yang lain.
Jika ia bergurau tetaplah anggap sebagai gurumu yang menggantikan orang tuamu mendidik. Jika kau senang bercanda, jadikan candamu untuk membuat gurumu tertawa dan terhibur, bukan menjadikan gurumu bahan tertawaanmu dan untuk menghibur orang lain
Jika saat bersedih, datang dan hibur meski kau tak memiliki apapun, kehadiran murid saat guru bersedih bagaikan orang tua yang bersedih namun didatangi anak-anaknya.
Jika ia memiliki kekurangan, cukupkanlah jika kau mampu dan tutupilah.
Tiap manusia memiliki kelebihan, pelajarilah kelebihannya itu. namun ia juga memiliki kekurangan maka tutupilah dengan daya dan upaya juga kelebihan yang kau miliki.
Dalam belajar jangan kau bawa apa yang kau miliki dan yang kau tahu, namun datanglah sebagai cawan yang kosong untuk dipenuhi oleh ilmu yg akan ia bagi. Jangan kau isikan cawanmu dulu, karena tak selamanya yang dicampur akan memiliki rasa baik.
Merendahlah di hadapan seorang gurumu nak, itu akan menaikkan derajatmu di mata orang lain.
Namun jangan kau rendah diri saat kau hanya belajar silat di halaman rumah gurumu yang hanya sepetak atau hingga tak memiliki lahan, gurumu melatihmu di dapur. Bahagialah kau nak, memiliki guru yang rela memberi ‘ruang pribadi’ yang seharusnya tabu dimasuki orang lain namun boleh kau gunakan. Itu penghargaan guru terhadap murid, terimalah. Jadikan pelajaran bagimu bahwa banyak cara orang yang harus kau pahami dan hargai.
Sekalipun nantinya guru silatmu hanyalah seorang tukang becak, pedagang asongan, hansip, penjaga pintu kereta api atau seorang tukang sampah sekalipun, tetaplah belajar padanya tak perlu malu. Jangan kau melihat artian hidup ini hanya dari buku yang dibuat, namun belajarlah dari kehidupan. Filosofi silat itu nyata di depan matamu nak. Jangan kau merasa rendah diri dengan belajar pada mereka yang hanya memiliki pekerjaan yang menurutmu di bawahmu. Dan jangan pula hanya dengarkan makna dari artian filosofi bela diri yang dibuat orang dan bangsa lain yang telah tertata di dalam bukunya, hidup ini tertata bukan seperti urutan dalam buku namun tertata dalam keunikannya.
Jangan pula menghakimi bahwa nilai filosofi sebuah pencak silat itu tak sedalam bela diri luar.
Banggalah jadi bagian bangsa ini, jika kau nanti bertemu dengan kawanmu yang membanggakan guru besar bela diri asingnya seorang profesor yang merumuskan makna kehidupan dan harmonisasi kehidupan itu dengan bukunya. Tetaplah bangga dengan gurumu yang meski hanya seorang tukang becak atau pedagang asongan sekalipun, ia tetaplah gurumu, cam kan itu ! Biarkanlah ia selesai membanggakan makna dan artian filosofi bela dirinya, dengarkanlah dengan seksama. Lalu perhatikanlah.
Katakanlah padanya, jika seorang profesor dan ahli bela diri lalu mengajarkan makna kehidupan dan harmonisasi kehidupan pada muridnya yang hanya mahasiswa atau pelajar itu bukanlah hal hebat sebenarnya, yang mencerminkan artian dari makna kehidupan. Memberi saat berlebih adalah wajar, namun memberi pada saat hanya memiliki satu-satunya yang kau miliki itu adalah luar biasa.
Adalah hal biasa jika kau temui orang berpendidikan berkecukupan memberikan ilmunya kemudian dipatok dengan harga. Namun jika orang yang papa memberikan ilmu yang hanya dimiliki satu-satunya dan hanya dengan bayaran ke“ikhlas”anmu itu adalah luar biasa, begitu juga jika tukang becak atau pedagang asongan mengajarkan ilmu yang hanya satu-satunya ia miliki dan mau berbagi pada yang lebih kaya dari padanya, itulah yang luar biasa. Dan adalah suatu kebanggan luar biasa jika kau yang mahasiswa mau belajar pada orang yang tak memiliki latar belakang akademis dan gelar pendidikan formal, itulah kerendahan hati dan kemauan belajar yang sesungguhnya. Itulah makna filosofi yang terdalam…Nah, itulah yang akan kau temui dan miliki.
Nak, jika kau anak yang serius, maka buatlah gurumu kagum dengan keseriusanmu mengkaji ilmunya itu.
Nak, mungkin kau lelah dengan nasehat ini, tapi inilah yang akan kau hadapi jika ingin menjadi pesilat.
Karena begitu gelar pesilat tersandang dibahumu, itu tak otomatis menjadikanmu apa yang sedang kau pelajari menjadi milikmu.
Ilmu itu akan menjadi milikmu jika gurumu telah menganggapmu pantas menerimanya dan mengamanatkannya padamu untuk diajarkan lagi pada orang lain. Kau akan menjadi bagian dari suatu perguruan atau aliran silat jika kau telah mempelajarinya lama dan sungguh-sungguh, jangan mengganggapnya ilmu itu milikmu jika kau baru dapat hanya bagian permukaan, jangan kau menganggap itu milikmu jika kau belum berbakti padanya.
Nak, pesilat itu gelar gratis yang berat dan teramat berat jika disandang dipundakmu, jangan kau jadi pesilat kalau cuma sekadar ikut-ikutan. Jangan pula berharap jadi pesilat kalau kau cuma untuk ditakuti orang.
Jadilah pesilat yang takut pada Tuhanmu, diterima semua orang, dihargai dan dihormati teman dan segani lawan.
Juga jangan berharap silatmulah yang menyelamatkan hidup dari bahaya, namun berpikirlah bahwa usaha belajarmu itulah yang membuahkan hasil hingga mengetuk pintu rahmat Allah yang dapat menyelamatkan diri dari bahaya. Allah-lah yang tetap menyelamatkanmu, nak.
Tak perlu menjadi pesilat jika kau tak berpikir dan bertindak sebagaimana pesilat.
Nak, jika kau tak mampu mengerti dan pahami serta tak sanggup memenuhi apa yang dinasehatkan tadi, urungkanlah niatmu jadi pesilat. Datangilah calon guru silatmu itu dan mintalah maaf karena memang dirimulah yang tak sanggup memikul beban menjadi pesilat. Tetaplah berhubungan dengannya…..
hari telah larut nak, tidurlah....
Jakarta, 20 mei 2011