SekeLumit
Tentang Pencipta Maen PukuL TIGA MANIS
PANGLIMA
PERANG DARI KLENDER
Oleh Kholid Bin Walid pada 14 Juli 2012 pukul 15:17
Oleh Kholid Bin Walid pada 14 Juli 2012 pukul 15:17
Rabu, 01
Juni 2011
H. MUHAMMAD
ARIF/H. DARIP (1886-1981)
H. Muhammad
Arif atau biasa dipanggil H. Darip dilahirkan di Klender pada tahun 1886 dari
pasangan H. Kurdin dan Hj. Nyai. Ia anak ketiga dari tiga bersaudara. Ia tidak
menempuh pendidikan formal membaca dan menulis. Pelajaran membaca dan menulis
huruf latin justru diperolehnya saat dipenjara dan belajar dari temannya. Dalam
belajar agama, tidak diketahui kepada siapa H. Darip belajar agama akan tetapi
ada kemungkinan ia belajar agama langsung kepada ayahnya.
Pada tahun
1914 ia pergi haji ke Makkah dan langsung menetap di sana untuk memperdalam
ilmu agama hingga kurang lebih dua tahun setengah (1916). Pulang dari Mekah, H.
Darip mengawali perjuangannya dengan berdakwah di sebuah mushalla kecil, yang
kini menjadi Masjid Al-Makmur yang cukup megah di Klender dan berjuang bersama
para ulama lain, yakni KH Mursyidi dan KH Hasbiallah. Selain dikenal sebagai
da’i, ia juga seorang yang memiliki ilmu main pukulan (ilmu silat) yang lihai.
Ia adalah seorang tokoh yang disegani masyarakat, daerah kekuasaannya mencakup
Klender, Pulogadung, Jatinegara hingga sampai Bekasi.
Pada saat
terjadi revolusi fisik melawan Jepang dan Belanda, H. Darip membentuk BARA
(Barisan Rakyat). Ia mengumpulkan para tokoh, pemuda dan jagoan yang tersebar di
Klender dan sekitarnya. Di antara mereka yang ikut bergabung adalah H.
Hasbullah (Kakak dari KH. Hasbiyallah) dan KH. Mursyidi. Mereka terlibat dalam
pertempuran di beberapa front di kota Jakarta. H. Darip sendiri saat itu
dijuluki "Panglima Perang dari Klender". Sebuah brosur dari Angkatan
45 DKI tanggal 17 Agustus 1985—empat tahun setelah Haji Darip meninggal
dunia—menyebutkan, H. Darip pada zaman penjajahan Belanda (sebelum perang dunia
kedua), berjuang bersama Soekarno bergerak di bawah tanah, terutama di
Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Ketika
pendudukan Jepang, menyaksikan kekejaman pasukan Dai Nippon ini, H. Darip
memimpin masyarakat di Klender dan menghimpun para jawara, narapidana dan napi
Rutan Cipinang untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang. Sewaktu dia masih
memimpin pergerakan dari Klender, banyak para pemimpin yang datang bahkan
menginap di kediamannya, di antaranya Soekarni, tokoh Murba, Kamaludin,
Syamsuddin orang Padang, dan Pandu Kartawiguna. Mereka menginap di rumah H.
Darip dan menyatakan kepadanya bahwa sebentar lagi Indonesia akan merdeka dan
mereka membicarakan pengusiran orang Jepang.
Anak buah H.
Darip yang tergabung dalam BARA dimandikan oleh H. Darip kemudian diisi
badannya dengan ilmu kebal lalu dicoba dengan dibacok badannya dengan golok.
Setelah dirasa memiliki ilmu kebal maka pasukan BARA diperbolehkan untuk
berjuang mengusir Jepang. H. Darip memerintahkan anak buahnya untuk menyerbu
dan mengusir tentara Jepang di Pangkalan Jati, Pondok Gede, Cipinang Cempedak,
sepanjang Kali Cipinang dan lain-lain. Anak buah H. Darip bahkan sampai
membunuh tentara Jepang. Hal tersebut dilakukan oleh anak buah H. Darip karena
jika tentara Jepang tidak dibunuh maka anak buah H. Darip yang terbunuh karena
tentara Jepang mempunyai senjata api sedang anak buah H. Darip hanya mempunyai
kekuatan fisik dan golok saja. Beberapa sumur di Klender dan sekitarnya tidak
ada yang mau minum airnya karena penuh dengan bangkai tentara Jepang,
begitupula dengan sungai Sunter yang dipenuhi dengan mayat tentara Jepang.
Setelah
berhasil mengerahkan rakyat yang dihimpun dan dipimpinnya untuk menghabiskan
tentara Jepang yang bertugas di pinggiran, maka H. Darip menyadari bahwa
kekuatan rakyat tidak akan berarti jika tidak dilengkapi dengan peralatan
senjata, logistik dan persediaan makanan. Kira-kira seminggu sebelum Indonesia
memproklamirkan kemerdekaan, H. Darip mendatangi Camat Klender dan meminta
segala pakaian rakyat yang akan dibagikan jangan dikeluarkan sebelum saatnya
tiba dan menunggu komando darinya.
H. Darip
juga mendatangi kantor polisi yang masih di bawah kekuasaan Jepang. Ia meminta
supaya senjata-senjata yang ada di kantor polisi jangan diserahkan kepada
Jepang, melainkan harus diserahkan kepada rakyat nanti. Lalu H. Darip menyuruh
komandan polisi membuat pernyataan dan membubuhkan tanda tangannya untuk
menyerahkan senjata kepada rakyat. Kemudian H. Darip pergi ke Seksi Tujuh. Ia
bertemu dengan Darmatin dan Juhra anak Banten dan Sukahar dan meminta kepada
mereka agar persenjataan yang ada di sana diserahkan kepada rakyat. Kemudian H.
Darip menuju penjara Cipinang. Direkturnya diberi tahu hal yang sama dengan apa
yang dikatakan pada Camat, Kepala polisi maupun Komandan Seksi VII. Pada
saatnya pula nanti H. Darip meminta agar para tahanan dilepaskan. Ia juga
datang ke Seksi V dan melakukan hal yang sama.
Hari
Proklamasi makin dekat dan keadaan makin panas saja. Tetapi dia telah
mempersiapkan anak buahnya. Dia juga mendatangi gudang-gudang beras di Klender
untuk memblokir beras yang ada jangan sampai keluar dari Klender. Maka jadilah
Klender wilayah pertahanan yang merupakan gudang makanan dan persenjataan ala
kadarnya.
H. Darip
mempersiapkan hal tersebut di atas setelah mendapat informasi dari Soekarni
bahwa Indonesia sebentar lagi akan merdeka. Informasi itu diperoleh ketika
terjadi serangan bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada 9
Agustus 1945 oleh Amerika Serikat atas perintah Presiden Amerika Serikat Harry
S. Truman. Setelah pengeboman tersebut maka pada 15 Agustus, Jepang mengumumkan
bahwa Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Berita ini diketahui oleh
kalangan pemuda bangsa Indonesia melalui berita siaran radio BBC (British
Broadcasting Corporation) London. Pada saat yang sama Soekarno dan Hatta baru
kembali ke tanah air memenuhi panggilan Panglima Mandala Asia Tenggara,
Marsekal Terauchi di Saigon, Vietnam.
Saat kembali
ke tanah air, Soekarno ditemui para pemuda untuk membicarakan kemerdekaan
Indonesia. Kemudian pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00 WIB, Soekarno dan Hatta
"diculik" dan dibawa ke Rengasdengklok, Karawang oleh para pemuda di
antaranya Soekarni, Chaerul Saleh dan lain-lain. Dalam peristiwa Rengasdengklok
itu, H. Darip menjadi saksi hidup ketika para pemuda mendesak Soekarno Hatta
agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
Kemudian
Soekarno Hatta ditempatkan di suatu rumah yang tidak layak di pinggir kali.
Lalu H. Darip meminta kepada Soekarni dan kawan-kawannya agar Soekarno Hatta di
tempatkan di rumah yang layak karena Soekarno Hatta adalah calon pemimpin yang
harus dihormati. Atas permintaan H. Darip maka Soekarni dan kawan-kawan
menempatkan Soekarno Hatta di rumah perkampungan milik warga Tionghoa, Djiaw
Kie Siong.
Pada waktu
itu Soekarno dan Hatta menginginkan agar proklamasi dilakukan melalui PPKI
(Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) sementara golongan pemuda
menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI yang
dianggap sebagai badan buatan Jepang. Selain itu, hal tersebut dilakukan agar
Soekarno dan Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Para golongan pemuda khawatir
apabila kemerdekaan yang sebenarnya merupakan hasil dari perjuangan bangsa
Indonesia, menjadi seolah-olah merupakan pemberian dari Jepang.
Setelah
melalui perundingan yang panjang akhirnya disepakati bahwa proklamasi
kemerdekaan dilaksanakan pada 17 Agustus di Jakarta kemudian bendera Merah
Putih dikibarkan para pejuang di Rengasdengklok pada Rabu tanggal 16 Agustus,
sebagai persiapan untuk proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Pada
akhirnya, tepatnya hari Jumat, 17 Agustus 1945 atau bertepatan dengan 09
Ramadlan 1364 H, Soekarno dan Muhammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan
Republik Indonesia. Proklamasi kemerdekaan tersebut disambut suka cita oleh
seluruh rakyat Indonesia, tak ketinggalan rakyat yang berada di Klender dan
sekitarnya. Setelah proklamasi kemerdekaan, Soekarno berkunjung ke Klender dan
memimpin rapat akbar di sana serta meminta rakyat Klender ikut membantu
mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Selanjutnya
H. Darip memerintahkan rumah-rumah di Klender menaikkan bendera merah putih.
Pabrik-pabrik di Klender, Cipinang, Jatinegara dan lain-lain diperintahkan
mengganti bendera Jepang dengan merah putih. H. Darip juga meminta agar pabrik
tidak mengeluarkan beras kecuali untuk makan laskar rakyat. Setelah berhasil
menghimpun senjata, makanan dan pakaian, H. Darip memerintahkan anak buahnya
untuk menjaga ketat wilayah Klender agar tidak dimasuki tentara Jepang atau
mata-mata Jepang.
Setelah
Jepang menyerah dan kembali ke negerinya, Belanda dan tentara sekutu berusaha
kembali menjajah Bangsa Indonesia. H. Darip bersama pasukan BARA bersiap-siap
untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia sebagaimana yang diamanatkan oleh
Soekarno saat rapat akbar di Klender.
Pada suatu
penyerangan, Klender berhasil diduduki Belanda dan sekutu sehingga H. Darip dan
pasukan BARA hijrah ke beberapa tempat seperti Tambun, Cikarang, Lemah Abang,
Bekasi, Cikampek, Karawang hingga ke Purwakarta dan membentuk BPRI (Barisan
Pejuang Rakyat Indonesia) Jakarta Raya. Dari tempat persembunyiannya—dengan
pangkat Letnan Kolonel Tituler—ia bermarkas di Purwakarta dan menyusun strategi
melawan NICA Belanda.
Suatu ketika
benteng pertahanan di Purwakarta diserang oleh Belanda melalui hujan bom dan
peluru dari udara dan darat sehingga H. Darip dan pasukannya harus mengungsi ke
hutan. Perjalanan ke hutan sangat memprihatinkan, terlebih di antara 4 (empat)
isteri H. Darip ada yang sedang hamil dan ada yang mempunyai bayi yang masih
kecil. Mereka harus turun naik bukit, menyebrang sungai dan menahan lapar dan
dahaga. Jika rasa lapar dan dahaga tidak tertahankan mereka singgah ke rumah
penduduk setempat untuk meminta makanan dan minuman. Di kemudian hari untuk
keselamatan anak dan isteri-isterinya, H. Darip mengirimkan mereka ke Klender
dan berpesan agar tidak memberitahukan kepada siapapun tentang posisi H. Darip
dan pasukannya.
Pada saat
memasuki bulan puasa, H. Darip dan pasukannya tetap berpuasa dan berjuang
melawan Belanda. Mereka dari Parakan Lima menuju hutan Cempaka, hutan Bendul,
Kembang Kuning dan Cibatu. Di hutan Cempaka H. Darip menghimpun kekuatan dan
mengatur strategi untuk menyerang musuh. Pertahanan Belanda di Purwakarta
kerapkali dibuat panik oleh serangan mendadak yang tidak terduga di malam hari
atau menjelang subuh hingga suatu ketika Jayusman, anak buah H. Darip yang
berasal dari Banten tertangkap. Ia ditembak tetapi tidak mempan dan akhirnya ia
tewas setelah dipulir kepalanya.
Belanda
berusaha keras untuk menangkap H. Darip akan tetapi usaha itu sia-sia. Bahkan
Belanda menjanjikan hadiah besar bagi orang yang bisa menangkap H. Darip. Pada
akhirnya Belanda mengirim mata-mata untuk bergabung dan menjadi anak buah H.
Darip. Tersebutlah Jami dan Sarosa yang menjebak dan membujuk H. Darip agar
pergi ke Jogjakarta untuk kembali dekat dengan Soekarno. Sejak Januari 1946
Ibukota memang pindah dari Jakarta ke Jogjakarta.
Sarosa
berangkat mendahului. Kemudian menyusul H. Darip, Jami dan Entong, anak perawat
kuda yang berumur 13 tahun. Ketika malam hari melewati hutan Jati, Sadang Purwakarta
H. Darip disergap Belanda. H. Darip diikat erat dengan kabel listrik dan dibawa
memakai mobil Jeep. Jami tidak terlihat ditangkap. Akhirnya ia menyadari bahwa
ia dijebak dan dikhianati oleh Jami. Dari Sadang H. Darip dibawa ke Jakarta
kemudian dimasukkan ke sel Polisi I Kebayoran selama tiga hari lalu dipindah ke
Ancol. Dalam kondisi tetap diikat dengan kabel listrik, H. Darip disiksa dengan
gagang senapan dan dipukul bertubi-tubi sampai akhirnya H. Darip dijebloskan ke
tahanan Glodok, Jakarta Kota (kini merupakan bagian dari pertokoan Harco) pada
tahun 1948.
Berita
tertangkapnya H. Darip sampai ke anak buahnya. Mereka sangat marah ternyata
pimpinannya tertangkap karena dijebak dan dikhianati oleh Jami. Kemudian anak
buahnya mencari-cari Jami hingga akhirnya Jami ditangkap dan tewas dibunuh oleh
anak buah H. Darip yang setia.
Pada akhir
tahun 1949 H. Darip menulis surat kepada Soekarno agar ia dibebaskan dari
penjara. Konon surat tersebut diterima oleh Fatmawati, istri Soekarno di Istana
Negara. Tetapi Soekarno tidak bisa membebaskan H. Darip. Setelah penyerahan
kedaulatan pada akhir Desember 1949, H. Darip akhirnya dibebaskan dari penjara.
Para anak buahnya yang hampir 100 orang menyambut H. Darip di luar penjara dan
membawa ke rumah Ghozali di Kebon Jahe kemudian ke Klender. Rumahnya di Klender
sudah habis dibakar oleh Belanda saat ia di penjara. Lalu bersama-sama anak
buahnya dan rakyat Klender secara gotong royong membuat rumah sederhana untuk
H. Darip.
Pada Mei
atau Juni 1950 H. Darip dipanggil Soekarno ke Istana Cipanas. Ia dijemput oleh
Letnan Ishaq Latief. Dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh Menteri Pertahanan
Hamengkubuwono. Soekarno menyambut dan memeluk H. Darip sambil menangis.
Soekarno lalu menjelaskan surat H. Darip yang dikirimkan untuknya. Soekarno
merasa yakin bahwa H. Darip akan bebas dan tidak akan mati di penjara.
Pada tahun
1950 ketika keamanan Jakarta belum sepenuhnya stabil, foto H. Darip terjual
habis. Masyarakat Jakarta, khususnya Klender dan terutama keturunan Cina akan
merasa aman jika rumahnya terpampang foto H. Darip. Para pencoleng dan
gerombolan penjahat tidak akan menggangu rumah atau toko yang terpampang foto
H. Darip.
H. Darip
adalah rakyat biasa yang kemudian memimpin rakyat untuk melawan dan mengusir
penjajah. Ia memiliki wibawa sehingga bisa menggerakan api semangat perlawanan
terhadap penjajah. Ia juga berjuang tanpa pamrih sehingga ia tidak
memperdulikan gelar veteran dan pahlawan. Di akhir masa hidupnya, ia
menghabiskan waktu untuk berdakwah di Klender dan sekitarnya untuk mengamalkan
ilmu yang ia dapat saat belajar di Makkah.
H. Darip
meninggal di Jakarta pada 13 Juni 1981 dan dimakamkan di Pemakaman Wakaf
Ar-Rahman Jalan Tanah Koja II, Jatinegara Kaum, Pulogadung Jakarta Timur
bersebelahan dengan makam salah satu istrinya, Hj. Hamidah.
SUMBER
Judul Buku:
Judul Buku:
ULAMA BETAWI
(Studi
Tentang Jaringan Ulama Betawi dan Kontribusinya Terhadap Perkembangan Islam
Abad ke-19 dan 20).
Penulis: Ahmad Fadli HS
Penerbit: Manhalun Nasyi-in Press, Jakarta, 2011
Penulis: Ahmad Fadli HS
Penerbit: Manhalun Nasyi-in Press, Jakarta, 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar