Apa kabar saudara-saudaraku?
Terima kasih sudah mampir diblog saya ini,semoga blog ini bisa menjadi ajang silaturahim juga ajang bagi kita semua untuk mempelajari tentang seni budaya bangsa ini khususnya seni beladiri pencak silat.
Kali ini saya Abay Rebelong akan memposting sebuah tulisan mengenai sejarah kebudayaan penca yang mana tulisan ini dibuat oleh Rd .Obing Ibrahim pada tahun 1938 dalam bahasa sunda yang kemudian diterjemahkan oleh kang Deni Priyatin ( Kang Apey) melalui media Facebook.Karena tulisan ini cukup panjang maka saya akan memposting dalam dua bagian.
Terima kasih untuk kang Deni Priyatin ( Kang Apey) yang telah membagikan dan menerjemahkan tulisan karya Rd.Obing Ibrahim semoga menjadi amal jariah yang bermanfaat buat kita semua.aamiin
Mari sama-sama kita simak tulisan tersebut,semoga kita bisa mengambil manfaat dari tulisan ini
SEJARAH
KEBUDAYAAN PENCA Bag.1
Tulisan Rd.Obing Ibrahim taun1938
PENGANTAR
Dewasa ini, boleh disebutkan di
seluruh tanah Pasundan begitu banyak yang menyukai Kebudayaan Penca. Adapun
perkara Penca kebanyakan tahu hanya sekedar satu persatu macamnya saja,
sedangkan dalam asal mula di tanah sunda dari kebudayaan ini rupanya masih
banyak yang belum tahu.
Oleh sebab itu saya sengaja
mengumpulkan sejarah penca secara satu persatu, mudah mudahan menjadi pengingat
bagi kebangkitan leluhur kita, karena terpikir oleh siapa lagi di lestarikannya
selain oleh kita juga (Orang Sunda pada umumnya)
Bila ada kekurangan yang di bahas di
sini oleh saya, tiada lain mohon maaf yang sebesar besarnya, dan mudah mudahan
bisa menyambung, melengkapi , menambahkan kekurangannya, supaya pada cetakan
kedua dan seterusnya bisa di perbaharui dan mencukupi terhadap apa yang
dimaksudkan dalam pembahasan ini.
Hormat saya
Obing
Cianjur, Desember 1938
Mengapa buku ini di beri nama
Sejarah Kebudayaan Penca, sebab yang akan diceritakan di sini adalah asal usul
penca, semoga menjadi pembangkit semangat bagi yang belum mengetahuinya (belum
menyukai) dengan kebudayaan ini; Dan Bagi yang sudah tahu sekedar pengulangan
saja, supaya menguatkan maksud memajukan kebangkitan karuhun Sunda, agar jangan
sampai redup bahkan mati di tengah jalan
Menurut penulis, dari dulu sampai
sekarang belum ada ahli penca yang membuat hasil karyanya, membuat buku
untuk sekedar peringatan lahirnya kebangkitan ini (Penca) di tanah Sunda
Saya yang mengalami jaman dimana
banyak yang ahli dan mahir dalam urusan penca di tanah Cianjur, seperti Rd.
H.Ibrahim di Cikalong, Ama Sabandar di Sabandar (Cianjur), merasa tertarik,
ingin menunjukkan ke khalayak umum, perjalanan ahli ahli penca tersebut, semoga
menjadi pembangkit ketertarikan bagi generasi keturunan sunda dalam
mengangungkan kebangkitannya
Mengingat Umur sudah redup (hingga
sekarang 80 tahun (1938;pent)), mumpung masih sehat memaksakan diri
menjalaninya (membuat buku ini) dari banyaknya yang meminta dari sana sini.
Menurut penulis, Jika hanya sekedar mengandalkan berita saling menyampaikan,
tentu semakin lama semakin jauh dari arti yang sebenarnya dan juga tidak akan
sampai sebagaimana mestinya menyebarnya kepada umum
Adapun barangkali jika saya sudah
tiada, belum tentu ada yang mau mengumpulkan (dalam bentuk tulisan) seperti
ini, hal ini karena rekan rekan yang sama sama pernah mengalaminya pada waktu
para ahli penca masih ada, dan sekarang sudah pada tiada, dan belum tentu ada
yang mau membuatnya, sehingga tentunya putra putra Sunda akan kehilangan
sejarah
Tadi di atas sudah dijelaskan,bahwa
pembahasan ini hanya sekedar menceritakan asal usulnya beserta para ahlinya
dalam urusan penca saja, jadi bukan bermaksud menunjukkan bagaimana teknisnya
(teknis jurusnya), sebab dalam urusan itu tidak akan sampai dengan tulisan,
tidak bisa digambarkan dengan lisan, kecuali harus dengan rasa sendiri, adapun
datangnya rasa itu karena kebiasaan, intinya harus belajar dengan prakteknya,
supaya lebih sempurna
Sebelum membahas keadaan
bermacammacam penca, sekarang hendak diceritakan macam macam
ameng(ulin/penca/beladiri) yang saya ketahui, seperti:
1. Ameng Cimande;
2. Ameng Sera;
3. Ameng Betawi;
4. Ameng Cikalong;
5. Ameng Sabandar, dsb.
Ini adalah ameng/ulinan yang ada di
tanah Sunda. Adapun ameng/ulinan yang ada di tempat lain seperti:
1. Ameng Padang (PencaMinangkabau);
2. Ameng Kuntaw;
3. Ameng Jujitsu;
4. Ameng Boksen
5. Ameng Worstelen (Gulat).
Yang disebutkan barusan di atas jika
dikelompokan semuanya satu maksud, satu tujuan, dengan kata lain memilikimaksud
yang sama, yaitu sama sama niat menjaga diri, ke sana nya sama samaingin
menang, mengejar keunggulan. Itulah sebabnya mengapa kebanyakan yangbelajar
ameng/ulinan yang tidak benar memeliharanya suka terjangkit rasasombong,
memiliki anggapan bagus ini daripada itu, merasa diri lebih jago dariorang
lain. Padahal semua ameng/ulinan juga tidak ada yang lebih bagus ataujelek,
melainkan hanya biasa saja, barangkali jelek bagi yang masih bodoh,sebab bagi
yang sudah pintar (mahir), tetap bagusnya, tidak tergantung denganameng/ulinan
ini ameng itu, siapa siapa yang kalah menandakan masih belummahir.
Ketentuannya ameng/ulinantersebut,
bisa dibagi 3 bagian, yaitu 1. Tingkat lebih tinggi, 2. Seimbang, 3tingkat
lebih bawah. Patokan tersebut harus menjadi pokok bagi semua yang sudahbisa,
begitu juga bagi yang sedang belajar.
Jika bersambung (bertarung)dengan
tingkat yang lebih tinggi tentu kalah, dengan yang seimbang tidak adayang kalah
dan menang siapa yang memaksakan diri dengan lawan yang seimbangpasti itu yang
jatuh. Jika bersambung dengan tingkat yang lebih bawah tentuselamanya menang.
Adapun manfaat
ameng(ulinan/Penca/beladiri) ada bermacam macam, yaitu:
1. Untuk kalangenan (awet
muda), Untuk penghiburhati, menghilangkan pikiran yang ruwet, sehingga ada
istilah bagi yang sudahmenyukai dengan ameng/penca jika mendengar bunyi kendang
membuat kaki bergetar.Itu tiada lain kecuali ketertarikan, perasaan hati sudah
menyatu dengan suarakendang.
2. Untuk gerak badan (sport)
yangmemang oleh semua orang yang mengerti sangat di utamakan untuk
mencapaikesehatan diri.
3. Belajar Reflek dan lincahdalam
melakukan salah satu perkara.
4. Untuk menjaga diri (beladiriatau
yang menjadi tanggungannya) pada waktunya menghadapi bahaya yang tidakdisangka
sangka akan menimpa.
5. Selain itu masih banyak lagijika
kita sengaja cari dari manfaat manfaat ameng tadi.
Bagi yang belajar ameng
(penca)supaya lebih cepat menyerap (ilmu)nya, harus memiliki cita cita yang
munculdari yang dirasakan sendiri, kemudian rajin dan tidak bosan. Cita cita
yangbelajar ameng biasanya tiada lain kecuali dibinasakan atau membinasakan,
jikadatang pukulan dari sini, begini menyambutnya, dipegang begitu,
begitumembukanya, geraknya begitu, begitu mengejarnya, atau membinasakannya,
sampaimusuh (lawan) celaka. Dengan kata lain tidak ada satu maksud yang ingin
membuatorang lain (musuh) enak, tapi selamanya mencari jalan supaya musuh tidak
bisaberdaya atau dibinasakan. Cita cita seperti itu jika menjangkiti orang yang
‘KOSONG’hatinya selanjutnya akan dijadikan alat untuk menyombongkan diri,
merasa bisaini bisa itu, padahal hal tersebut pada kenyataannya sering kali
ingkar darimaksud, sebab tadi juga sudah diceritakan bahwa tidak ada yang
lebih,tergantung dengan kepintarannya dan kecakapannya saja. Begitu juga dalam
urusankepintaran ameng relative sekali ukurannya, peribahasa MANUSIA TiDAK
ILMUPENUTUPNYA, harus senantiasa ada yang lebih tinggi dari dirinya,
meskipundengan sesama manusia lagi.
Kedua merasa sudah mahir, merasa
dirisudah cukup, tidak perlu belajar lagi, terus mengajari orang lain
(menggurui)
Karena sudah merasa bisa,
ketikaterdesak sama orang lain, bukannya instropeksi dengan kemampuan yang
masihrendah, tetapi sifat egois yang lebih di tonjolkan, akhirnya:
1. Menimbulkan pertikaian,
padaakhirnya berantem saling bacok;
2. Menghina dengan pencanya,
bahwapencanya jelek, buat apa belajar penca seperti itu, tidak terlihat
menarik.
3. yang menyebar hanya
kejelekan,kebaikannya belum tersampaikan, pada akhirnya semakin berkurang, wal
hasiltidak kesana ke mari (menggantung).
4. Bosan.
Oleh sebab itu semoga pembahasanini
menjadi CERMIN bagi yang suka belajar Ameng (beladiri)
Sekarang mari kita telusuriurutannta
satu persatu.
1. CIMANDE
Ameng Cimande, yaitu yang
menjadipoko kebangkitan ameng yang paling dulu gelar di tanah sunda, serta
sudah dikenaldari jaman dulu. Adapun yang punya anggitan (pelopor) wallohu’alam
siapa hanyasaja pertama muncul kepada umum yaitu dari jaman EMBAH KAHiR, malah
beliaulahyang pertama menyebarkannya ke seluruh tanah Pasundan juga.
Siapakah Embah Kahir?
EMBAH KAHIR dilahirkan
hinggabesarnya dikampung dan desa Kamurang onderdistrict Mande, district
CikalongKulon, Kabupaten Cianjur,
Ketika masa beliau muda dan
perkasa,mengajarkan ameng di kabupaten Cianjur, sabagian besar kepada para
priyayi saja,jadi yang lain langka yang mengetahui.
Waktu jaman Kanjeng Dalem
WiratanudatarIV (di Cianjur dikenal Kanjeng Dalem Sabiroedin, Embah Kahir
sering mengajar kepadaprajurit dan kaum priyayi, malah pernah ditarungkan
dengan Sengke di alun-alunCianjur, yang pada akhirnya Sengke itu kalah malah
dalam buku Pangeran Kornel,karangan Raden Memed Sastrahadiprawira, keluaran
Balai Pustaka juga disebutkan.
Tidak lama dari peristiwa itu
di Karawang di Pengewelan
terjadikeributan, semua bangsa sengke melawan kepada Pemerintah, kemudian
diatasi olehorang Cianjur beserta tempat lain sampai beres, malah hingga
sekarang diKarawang ada kampung Babakan Cianjur, yaitu patilasan orang cianjur
membuatperkampungan sementara (ngababakan) sewaktu menghadapi keributan melawan
Sengke(perang Makaw kalau orang Karawang bilang) kemudian lagi menumpas Bagus
Rangin,kepala berandal.
Dalam waktu itu tidak ada lagi
amengkecuali amengan Embah Kahir saja(CImande).
Lama kelamaan Embah Kahir pindahke
Cimande, Kabupaten Bogor. Di Cimandenya kemudian mengajarkan ameng
hinggasekarang turun temurun, hingga hampir seluruh tanah Pasundan hingga
pelosoktidak ada yang tidak mengenal dengan penca Cimande, serta sebagian besar
banyakyang sudah bisa. Jika ada hajatan/kenduri banyak yang sengaja
disambungsambungkan dengan sesama temannya, serta kebanyakan beres tidak menjadikankericuhan
apa apa.
Kesini kesini setelah
banyakvariannya (rupa-rupa ameng) pada waktunya disambungkan sering kali
menimbulkankericuhan, sebabkan masing masing ingin unggul tidak mau disebut
jelek.
Lantas kenapa ada ameng yang laindi
tanah Pasundan. Saperti Batawi, Ciwaringin, Sera, Depok, Cigondewa,
dansebagainya, hal itu tergantung dengan tempatnya yang menjadi gurunya,
saperti;gurunya tinggal di Ciwaringin, jadi ameng Ciwaringin, gurunya tinggal
diNyengseret, jadi ameng Nyengseret dan sebagainya, namun asalnya Cimande
Cimandejuga, kecuali Cikalong dan Sabandar.
Ada ameng yang hampir se bulu
denganCimande, se bulu dengan Cikalong, disebut Cimande bukan, disebut Cikalong
jugabukan, yaitu Penca Cikaret. Penca CIkaret jika dilihat sekilas seperti cimande,namun
pada prakteknya bersambung bukan Cimande, ada gerak dan rasa sepertiPenca
Cikalong Apa Sebab hingga ada dua bulu?
Ketika Ajengan Cikaret
(Sukabumi)masih hidup, beliau belajar Cimande dulu, kemudian belajar Cikalong,
JadiCimande ada, Cikalong ada.
Menurut kebiasaan jika
mengambilsalah satu ameng yang disukai, ameng yang lainnya kadang tidak dipakai
lagi,pindah kepada yang disukai, namun tidak sampai lupa dengan amengan
sebelumnya,sering ada saja paham paham sebelumnya yang sering digunakan, ya
terbukti dalamameng cikaret. Dengan kepiawaiannya Ajengan Cikaret dalam
mengajarnya hinggaada 2 bulu, yaitu bulu cimande dengan bulu cikalong.
ameng Cikaret tersebut
kemudianmenyebar kepada anak cucunya Ajengan Cikaret dan kepada murid-muridnya.
2. CIKALONG
Adapun yang di sebut ameng Cikalong
yaitu yang menyebar dariCikalong. Yang punya peran dalam meracik dan
menyebarkannya yaitu Juragan Rd.Haji Ibrahim, tinggalnya di Cikalong,
amengannya juga disebut ameng Cikalong.
Siapakah Juragan Haji Ibrahim?
Juragan H. Ibrahim dilahirkan di
Cikalong, termasukketurunan R.A. Wiratanoedatar II. Setelah menginjak besar
beliau dipeliharaoleh ayah angkatnya yaitu Juragan Aria Djatinagara (Meester
Cornelis).
Karena Juragan Aria Djatinagara
begitu sukanya dengan penca,beliau (Rd. H. Ibrahim) di suruh belajar penca.
Serta hampir semua guru pencayang ada di Djatinagara, Bogor, Cianjur, Batawi
oleh beliau di sambangi dandijadikan guru hingga tamatnya (selesai). Oleh
Juragan Aria sering dicoba ditarungkan dengan gurunya, semuanya tidak ada yang
kalah, hal itu menandakanbahwa kepiawaian Juragan H. Ibrahim sudah menandingi
gurunya.
Dalam urusan penca Juragan H.
Ibrahim boleh dibilang luarbiasa dari segi kecakapannya serta kepiawaiannya;
jika dihitung seluruhnya yangsudah dijadikan tempat berguru olehnya ada 17
guru, semuanya hampir se bulusaja. Yaitu mengambil pokok dari Cimande, hanya
beda sedikit sedikit saja.Sesuai kesukaan masing masing guru.
Di Cikalong pada waktu itu ada lagi
yang punya kemahiran amengpenca yaitu suami kakak (kakak Ipar) Juragan H.
Ibrahim, asal dari Jatinagara,namanya Juragan Ateng Alimoedin, ya dengan kakak
iparnya, Juragan H. Ibrahimmengasah keterampilannya dalam urusan ameng penca.
Malah sepengetahuannya terhadap guru
guru ameng yang ada dibetawi, berkat petunjuk Juragan Ateng Alimoedin.
Pada waktu umur 27 tahun, beliau
memiliki pekerjaan jualbeli kuda, sekalian sambil belajar kembali ameng penca
di Haji Ma’roep dikampong Pulo kuningan (Karet) Batawi.
Pada Saat itu ibarat sekarang kereta
mesin saja, jikabepergian agak jauh, selalu menggunakan kuda, serta hampir
setiap orang yangagak mampu pada memilikinya. Dan yang paling disukainya adalah
kuda Sumba (kudaSandel)
Juragan Haji Ibrahim selalu membeli
kudanya dari kapal untukpengiriman ke Bandung, Bogor, Cianjur, Sukabumi, Garut
seperti biasa kepadapara priyayi memasoknya. Jadi Juragan H. Ibrahim pada waktu
itu adalah Saudagarbesar.
Apabila kudanya habis, kemudian
beliau ke Batawi lagi menujuke tempat Haji Ma’roep (biasa dipanggil Abang
Ma’roep), menunggu kapal datang.
Sambil beliau menunggu kapal datang,
tiap malam sering“bersambung” (beradu penca) dengan Haji Ma’roep) yang menjadi
tempatpersinggahannya, layaknya mengusir rasa bosan sambil memeriksakan celah
yangbelum ditemukan oleh beliau, dalam urusan penca. Malah selain beliau juga
masihbanyak murid muridnya Haji Ma’roep yang sedang belajar, begitu juga
masihbanyak yang sedang saling bersambung dengan sesame rekan murid muridnya.
Diceritaken di samping halaman
tempat belajar penca, adasatu rumah, yang mengisinya orang Sumatera, namanya
Bang Madi.
Setiap kali murid haji Ma’roep
sedang ramai berlatih, Bang madi hanyamenonton dari balik pagar
pekarangannya, terkadang oleh haji a’roep suka diajakngopi di teras rumahnya
sambil memperhatikan yang sedang berlatih, yaitu muridmurid Haji ma’roep yang
sedang asik berlatih dengan sesama murid yang sedangmenghafal jurus.
Adapun yang di teras rumah hanya
asik saja ngobrol urusandagang.
Setelah tidak ada Bang Madi masuk ke
rumahnya, rupanya bosanberdiri di balik pagar, ditambah udara agak dingin
karena makin larut malam JuraganHaji Ibrahim kemudian bertanya kepada Haji
Ma’roep, beliau berkata : “Bang !siapa itu yang tadi berdiri disebelah pagar,
rupanya dia demen sama bersilat,apa dia bisa bersilat, apa tidak,? Sebab melihat
rupanya dia suka bersilat?”
Jawab Haji Ma’roep : “Ah. Dia si
Madi orang sini, tidak bisaapa apa, Cuma liat liat aja seperti anak kecil, dia
sering minum kopi di sinisembari meliat anak anak kita bersambung”
Dijawab oleh Haji Ma’roep begitu,
Beliau tidak banyakberkata apa apa lagi perkara Bang Madi, kemudian lanjut
membicarakan yang lainsambil ngopi hingga larut malam.
Sebenarnya Bang Madi adalah salah
seorang ahli Penca, hanyabelum terbuka saja, Beliau berasal dari Pagar Ruyung
residentje Jambi,Sumatera. Beliau pergi dari tanah kelahirannya karena diusir
oleh orang orangsekampung, Sebab telah berani mengajar penca ke kampong lain.
Setelah terluntalunta akhirnya sampai di Betawi, kemudian mengembara di Betawi,
matapencahariannya adalah jual beli kuda afkiran dari kompeni.
Meskipun Bang Madi tukang kuda, tapi
dengan Juragan H.Ibrahim belum lah kenal satu sama lain.
Dari mulai berangkatnya dari pagar
ruyung tidak terceritakankisahnya, hanya setelah ada di Betawi saja.
“Aturan di Pagar Ruyung? Amatlah
keras, sangat tidak bolehada penca keluar, kecuali di kampong Pagar Ruyung saja
hingga sekarang.”
Itulah sebabnya mengapa meskipun
Bang Madi sudah ada diBetawi tidak mau memperlihatkan kepiawaiannya kepada
orang lain, apalagimengajarkannya tidak pernah memperlihatkan sama sekali bahwa
beliau bisa penca.
Diceritakan Juragan Haji Ibrahim jam
4 subuh sudah bangunkemudian pergi ke Mushola untuk shalat Shubuh, setelahnya
kemudian jalan jalanberkeliling perkampungan.
Kurang lebih setengah 6 pagi pagi
beliau melihat kuda 5 ekordi halaman Bang Madi, kemudian merasa tertarik,
maksudnya hendak di beli;ketika melihat lihat dari dekat, kebetulan Bang Madi
muncul dari dalam rumah.
Juragan H. Ibrahim berfikir sejenak
sambil melihat kudatersebut.
Pada saat yang sama Bang Madi masuk
ke rumahnya mengambiltikar yang sudah agak lusuh di hamparkan di teras rumah,
seraya berujar : “Dudukdulu disini Raden, biar kita berdami urusan kuda, ini
ada kopi hanget, minumkopi dulu” sambil terus cangkirnya disodorkan. Juragan H.
Ibrahim kemudianduduk di atas tikar sambil terus menatap kuda tersebut.
Dasar putra putra sunda harus
memiliki jodoh dengan amengBang Madi, yang sekarang disebut ameng cikalong,
setelah Bang Madi menyodorkankopi kepada Juragan haji Ibrahim, kemudian berkata
: “tadi malem bukan mainramainya orang yang belajar bersilat di halaman Bang
ma’roep, rupanya Radenjuga sudah pandai bermain silat, sebab tadi maelem saya
liat Raden bersambungdengan Bang Ma’roep” Ujar Bang Madi dengan raut muka
mesem.
Juragan H. Ibrahin dasar sudah
sangat suka dari kecil(mendarah daging), mendengar kata “bersilat”, yang
tadinya sedang asik menatapkuda langsung terperanjat menatap bang madi sambil
berkata : “Iyah saya memangsuka bersilat, kalu begitu barangkali abang juga bisa
maen silat”.
Bang Madi : “Ah, tidak Den, saya sih
suka meliat meliat saja”.
Juragan H. Ibrahim : “Masa iya,
jangan bohong bang, orangyang sudah tau belajar bersilat mudah aja
keliatannya,” ujarnya sambil agakmemancing.
Bang Madi “ Ya tau juga sedikit tapi
main begitu saja, sembarangan.”
Juragan H. Ibrahim dalam hatinya : “
Nah kebuka sekarang,coba sama saya mau dicoba, sebab tidak mungkin sanggup
melawan saya juga,apalagi sama Bang ma’roep, sebab badannya saja tidak termasuk
besar, apalagisudah berumur, Ah!! dibegitukan juga jatuh.”
Munasabah beliau (Juragan H.
Ibrahim) dalam hatinya begitu,sebab sebagaimana diketahui dengan keberanian
beliau dalam urusan penca jamanitu dapat dikatakan termasuk golongan paling
jago, setelah dapat merobohkanguru guru maen po yang sudah di coba sama beliau.
Apa lagi ini Bang Madi selainbukan guru apalagi perawakannya kecil dan terlihat
lemah (tidak gagah). Pendekkata tidak ada yang perlu ditakutkan saja. Kemudian
beliau mengajak bang madi,ujarnya : “ kalu begitu coba sama saya bersambung
bang.!”
Bang Madi: “Ah, jangan main main
Den, masa orang tua sepertisaya dapet melawan Raden”
Juragan H. Ibrahim : Kalu buat
mencoba kan tidak apa, tohsaya juga tak akan mematiin abang.”
Bang Madi : “Kalu begitu, ya boleh,
tetapi jangan disinimalu kelihatan orang, lebih baik dalam rumah saja.”
Juragan H. Ibrahim: “Baek.” Ujarnya
sambil berdiri kemudianmasuk ke dalam rumah, membuka pakaian, siap siap
mendekati bang Madi sepertiyang hendak benar benar mencoba.
“Coba bang, pasang yang kuat.” Ujarnya.
Bang madi tidak bergeming, tidak
melakukan apa apa, biasadandanan tadi sewaktu pertama bertemu dengan Juragan H.
Ibrahim saja.
Kemudian bang Madi pasang, tangan
kanan agak ke depan,sedang tangan kiri agak pendek, kaki serong sedikit,
kepalan tangannya separuhterbuka dan agak menungkup ke bawah.
Ujar Juragan H. Ibrahim: “Ah, bang,
biar betul pasangnyajangan begitu, pasangan apa itu ? yang betul saja bang
supaya nanti abangjangan penasaran.” Berucap begitu seperti terlihat
merendahkan.
Bang Madi: “ Betul Den, tidak ada
lagi, Cuma sebegini;Pasanagan ini namanya “Macan turun dari gunung.”
Tidak banyak berkata lagi tiba tiba
oleh Juragan H. Ibrahim “di sambut”………
Apa yang terjadi..? ….. Juragan H.
Ibrahim terlihat jatuhterlentang….
Beliau berdiri lagi , sambil
menyuruh pasang lagi kepadabang madi.
Dengan hati hati dan waspada kedua
kalinya “nyambut” lagipasangan Bang Madi, namun seperti sebelumnya saja beliau
yang terjungkal,setelah beberapa kali di coba, namun tetap beberapa kali beliau
terjungkaljatuh.
Kemudian berfikir mencari akal
supaya baisa berguru kepadabang madi dengan leluasa tidak di ketahui bang
ma’roep. Tidak lama kemudianbeliau mendapat akal, kemudian berkata kepada Bang
Madi, ujarnya: “ Betul sayaterima kalah bang, saya tidak sangka abang begitu
pande main silat; tetapisekarang kita kembali tentang hal jual beli kuda; itu
kuda yang 5 saya belisemua, dengan harga f 300, saya tidak tawar lagi, tetapi
nanti jam 3 malem,musti abang bawa semuanya kuda itu, tunggu sama abang di
cillilitan.
Jangan salah Bang! Kalu saya belon
datang ke Cililitan,abang jangan pigi kemana mana, sebab nanti kalu abang tidak
keberatan, abangmusti ikut saya ke Cikalong, buat anter ini kuda sebab saya
tidak bawa temenlagi. Buat ongkos ongkos saya tanggung semuanya, dan nanti buat
abang pulanglagi ke Betawi, saya akan kasih seekor kuda jampang.”
Bang Madi: “Baik Den”
Diceritakan paginya jam 3 subuh Bang
Madi sudah menunggu diCililitan, serta ketika disamperin oleh Juragan H.
Ibrahim, tidak menunggu lamakemudian langsung ikut serta ke Cikalong.
Sepanjang jalan Juragan H. Ibrahim
merasa gelisah hatinyabakalan memiliki guru silat yang begitu hebatnya, dalam
hatinya : “ Saya sangatberuntung sekali punya guru sangat hebatnya, apalagi
terbawa pulang, bisaleluasa belajar tidak akan ketahuan oleh bang Ma’roep.
Benar benar Bang Ma’roepitu “Mata Peda” (mata ikan peda), meskipun sudah
bertetangga bertahun tahun danbegitu akrabnya tapi belum bisa terbuka. Ah
barangkali ini saemata mata jodohsaya saja, sebab seumpama telah terbuka sama
bang Ma’roep belum tentu menjadimilik saya, sebab belum tentu saya bisa
langsung belajar ke bang madi.”
Pendek cerita, sesampainya di
Cikalong beliau benar benarbelajar dengan diat dan rajin, berguru tidak kenal
siang maupun malam,senantiasa menanyakan berbagai masalah silat kepada yang
jadi gurunya (BangMadi). Wal hasil latihan pun tidak memakan waktu berbulan
bulan, hal ini karenagiat dan rajin yang belajar. Apalagi telah memiliki dasar
silat dari awalnya,hampir semua ilmu Bang MAdi turun kepada beliau. Amengan
silat beliau yanghasil berguru dari 17 guru sudah hampir telupakan.
Ujar Bang Madi kepada Juragan H.
Ibrahim : “Den, perkarabersilat sudah cukup. Tak usah belajar lagi, tapi
sekarang ada seorang guruyang cepet pukulannya, namanya Bang Kari di Benteng,
kalu Raden mau belajarlagi boleh coba coba.”
Sepulangnya Bang Madi ke Betawi,
tidak perlu menunggu lamabeliau (Juragan H. Ibrahim) berangkat ke Benteng
menemui Bang Kari.
Tidak diceritakan begini begitunya,
singkat cerita JuraganH. Ibrahim diterima berguru “Pukulan” oleh Bang Kari.
Ketika mulai bersambung menjajal
kemampuan masing masing,mereka berdua masing masing kaget; Juragan H. Ibrahim
kaget melihat peupeuhanbang Kari yang begitu cepatnya, terus menerus tiada
jeda, begitu juga bang karikaget karena merasa peupeuhannya tidak ada yang
masuk kepada Juragan H.Ibrahim, sebab biasanya ahli ahli silat tidak ada yang
tidak kewalahan, tapisekarang merasa pukulannya yang bertubi tubi tidak ada
yang masuk. Meskipubbegitu Bang kari masih terus saja menyerang Juragan H.
Ibrahim, pikirannyameskipun tidak kena dari atas, dari bawah tentu kena.
Kebetulan ketika Juragan H. Ibrahim
sedang sibuk membuangpukulan bang Kari, Kaki beliau agak menjulur ke depan,
secara tiba tiba bangkari menghentakan kaki maksudnya hendak menginjak.
Melihat kerasnya tenaga, barangkali
tidak mungkin tidakremuk kaki Juragan H. Ibrahim, namun apa yang terjadi…?
Secepat kilat Juragan H. Ibrahim
membelokkan kakinya, sehinggakaki bang Kari hanya mengenai papan lantai
rumahnya (papan lantai rumahpanggung) hingga hancur, akibat kerasnya tenaga
kaki yang menginjak. Setelah itubang kari berhenti, kemudian berujar: “raden;
sudah cepet betul dari urusanbersilat, saya belon pernah mendapet lawan yang
cepet seperti raden; saya rasaRaden sudah cukup, tak perlu belajar lagi.”
Pada waktu berangkat lagi ke Betawi
pernah beliau mencobamenghadapi bang Ma’roep bekas gurunya dahulu, namun bang
ma’roep tidak berdaya,malah laksana dipermainkan oleh Juragan H. Ibrahim.
Semenjak itu Juragan H. Ibrahim
sudah merasa puas, nafsunyadalam berguru lagi sudah berkurang, hanya tinggal
memahamkan dan memperhalushasil berguru beliau dari bang Madi.
Berkat kepiawaian Juragan H. Ibrahim
dalam urusan silat,pernah diceritakan ada ya yang menjajal di serang
menggunakan gobang di “babuklalaykeun” hingga tidak mengenainya, selain itu
juga dalam merebut gobang ,tidak seperti yang lainnya (sebagaimana tukang
penca), namun beliau menangkap bilahyang tajam di capit dengan kedua jari,
telunjuk dan ibu jari layaknya seoranganak memegang ekor capung, kemudian
diputar yang asalnya bilah yang tajam daribawah menjadi ke atas. Malah saking
kuatnya yang memegang gagang gobang berlawanandengan kerasnya yang menangkap
dan memutarkan bilah gobang, hingga gabangtersebut lepas dari gagangnya.
Itulah bukti betapa semakin pesatnya
kemajuan beliau dalamurusan Silat
Semasa hidupnya Juragan H. Ibrahim,
oleh beliau sering diwejangkan kepada keluarganya dan putera puteranya.
Diantaranya yaitu Agan Brata(putera) dan Juragan H. Tarmidi (keponakan). Pada
waktu Juragan H. Ibrahimwafat, Agan Brata baru menginjak usia 15 tahun (1912).
Berkat kedua puteranya itulah
tersebarnya ilmu silatBapaknya, serta karena mereka tetap tinggal di Cikalong,
akhirnyakebangkitannya pun terkenal di sebut Penca Cikalong. Hanya saja Agan
Bratadalam usia 42 tahun wafat, yang meneruskan di Cikalong yaitu Juragan
R.H.Tarmidi, Naib Cikalong.
Setelahnya Penca Cikalong meneyebar kemana
mana, sebagaimanaCimande saja banyak yang berganti sifat, asal begini menjadi
begitu, menurutkemampuan dan keinginan yang mengajarkan. Namun bagi yang sudah
bisa semuanya satu bulu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar