Jumat, 02 Juni 2017

SEJARAH KEBUDAYAAN PENCA BAGIAN I

Assalamualaikum Wr Wb
 Apa kabar saudara-saudaraku?
Terima kasih sudah mampir diblog saya ini,semoga blog ini bisa menjadi ajang silaturahim juga ajang bagi kita semua untuk mempelajari tentang seni budaya bangsa ini khususnya seni beladiri pencak silat.

 Kali ini saya Abay Rebelong akan memposting sebuah tulisan mengenai sejarah kebudayaan penca  yang mana tulisan ini dibuat oleh Rd .Obing Ibrahim pada tahun 1938 dalam bahasa sunda yang kemudian diterjemahkan oleh kang Deni Priyatin ( Kang Apey) melalui media Facebook.Karena tulisan ini cukup panjang maka saya akan memposting dalam dua bagian.
  Terima kasih untuk kang Deni Priyatin ( Kang Apey) yang telah membagikan dan menerjemahkan tulisan karya Rd.Obing Ibrahim semoga menjadi amal jariah yang bermanfaat buat kita semua.aamiin


Mari sama-sama kita simak tulisan tersebut,semoga kita bisa mengambil manfaat dari tulisan ini



SEJARAH KEBUDAYAAN PENCA Bag.1
Oleh Deni Priyatin pada 23 Oktober 2013 pukul 16:00
Tulisan Rd.Obing Ibrahim taun1938

PENGANTAR
Dewasa ini, boleh disebutkan di seluruh tanah Pasundan begitu banyak yang menyukai Kebudayaan Penca. Adapun perkara Penca kebanyakan tahu hanya sekedar satu persatu macamnya saja, sedangkan dalam asal mula di tanah sunda dari kebudayaan ini rupanya masih banyak yang belum tahu.
Oleh sebab itu saya sengaja mengumpulkan sejarah penca secara satu persatu, mudah mudahan menjadi pengingat bagi kebangkitan leluhur kita, karena terpikir oleh siapa lagi di lestarikannya selain oleh kita juga (Orang Sunda pada umumnya)
Bila ada kekurangan yang di bahas di sini oleh saya, tiada lain mohon maaf yang sebesar besarnya, dan mudah mudahan bisa menyambung, melengkapi , menambahkan kekurangannya, supaya pada cetakan kedua dan seterusnya bisa di perbaharui dan mencukupi terhadap apa yang dimaksudkan dalam pembahasan ini.
Hormat saya
Obing
Cianjur, Desember 1938


Mengapa buku ini di beri nama Sejarah Kebudayaan Penca, sebab yang akan diceritakan di sini adalah asal usul penca, semoga menjadi pembangkit semangat bagi yang belum mengetahuinya (belum menyukai) dengan kebudayaan ini; Dan Bagi yang sudah tahu sekedar pengulangan saja, supaya menguatkan maksud memajukan kebangkitan karuhun Sunda, agar jangan sampai redup bahkan mati di tengah jalan

Menurut penulis, dari dulu sampai sekarang belum ada ahli penca yang membuat hasil karyanya,  membuat buku untuk sekedar peringatan lahirnya kebangkitan ini (Penca) di tanah Sunda
Saya yang mengalami jaman dimana banyak yang ahli dan mahir dalam urusan penca di tanah Cianjur, seperti Rd. H.Ibrahim di Cikalong, Ama Sabandar di Sabandar (Cianjur), merasa tertarik, ingin menunjukkan ke khalayak umum, perjalanan ahli ahli penca tersebut, semoga menjadi pembangkit ketertarikan bagi generasi keturunan sunda dalam mengangungkan kebangkitannya

Mengingat Umur sudah redup (hingga sekarang 80 tahun (1938;pent)), mumpung masih sehat memaksakan diri  menjalaninya (membuat buku ini) dari banyaknya yang meminta dari sana sini. Menurut penulis, Jika hanya sekedar mengandalkan berita saling menyampaikan, tentu semakin lama semakin jauh dari arti yang sebenarnya dan juga tidak akan sampai sebagaimana mestinya menyebarnya kepada umum

Adapun barangkali jika saya sudah tiada, belum tentu ada yang mau mengumpulkan (dalam bentuk tulisan) seperti ini, hal ini karena rekan rekan yang sama sama pernah mengalaminya pada waktu para ahli penca masih ada, dan sekarang sudah pada tiada, dan belum tentu ada yang mau membuatnya, sehingga tentunya putra putra Sunda akan kehilangan sejarah

Tadi di atas sudah dijelaskan,bahwa pembahasan ini hanya sekedar menceritakan asal usulnya beserta para ahlinya dalam urusan penca saja, jadi bukan bermaksud menunjukkan bagaimana teknisnya (teknis jurusnya), sebab dalam urusan itu tidak akan sampai dengan tulisan, tidak bisa digambarkan dengan lisan, kecuali harus dengan rasa sendiri, adapun datangnya rasa itu karena kebiasaan, intinya harus belajar dengan prakteknya, supaya lebih sempurna

Sebelum membahas keadaan bermacammacam penca, sekarang hendak diceritakan macam macam ameng(ulin/penca/beladiri) yang saya ketahui, seperti:
1. Ameng Cimande;
2. Ameng Sera;
3. Ameng Betawi;
4. Ameng Cikalong;
5. Ameng Sabandar, dsb.

Ini adalah ameng/ulinan yang ada di tanah Sunda. Adapun ameng/ulinan yang ada di tempat lain seperti:
1. Ameng Padang (PencaMinangkabau);
2. Ameng Kuntaw;
3. Ameng Jujitsu;
4. Ameng Boksen
5. Ameng Worstelen (Gulat).

Yang disebutkan barusan di atas jika dikelompokan semuanya satu maksud, satu tujuan, dengan kata lain memilikimaksud yang sama, yaitu sama sama niat menjaga diri, ke sana nya sama samaingin menang, mengejar keunggulan. Itulah sebabnya mengapa kebanyakan yangbelajar ameng/ulinan yang tidak benar memeliharanya suka terjangkit rasasombong, memiliki anggapan bagus ini daripada itu, merasa diri lebih jago dariorang lain. Padahal semua ameng/ulinan juga tidak ada yang lebih bagus ataujelek, melainkan hanya biasa saja, barangkali jelek bagi yang masih bodoh,sebab bagi yang sudah pintar (mahir), tetap bagusnya, tidak tergantung denganameng/ulinan ini ameng itu, siapa siapa yang kalah menandakan masih belummahir.
Ketentuannya ameng/ulinantersebut, bisa dibagi 3 bagian, yaitu 1. Tingkat lebih tinggi, 2. Seimbang, 3tingkat lebih bawah. Patokan tersebut harus menjadi pokok bagi semua yang sudahbisa, begitu juga bagi yang sedang belajar.
Jika bersambung (bertarung)dengan tingkat yang lebih tinggi tentu kalah, dengan yang seimbang tidak adayang kalah dan menang siapa yang memaksakan diri dengan lawan yang seimbangpasti itu yang jatuh. Jika bersambung dengan tingkat yang lebih bawah tentuselamanya menang.
Adapun manfaat ameng(ulinan/Penca/beladiri) ada bermacam macam, yaitu:
1.  Untuk kalangenan (awet muda), Untuk penghiburhati, menghilangkan pikiran yang ruwet, sehingga ada istilah bagi yang sudahmenyukai dengan ameng/penca jika mendengar bunyi kendang membuat kaki bergetar.Itu tiada lain kecuali ketertarikan, perasaan hati sudah menyatu dengan suarakendang.
2. Untuk gerak badan (sport) yangmemang oleh semua orang yang mengerti sangat di utamakan untuk mencapaikesehatan diri.
3. Belajar Reflek dan lincahdalam melakukan salah satu perkara.
4. Untuk menjaga diri (beladiriatau yang menjadi tanggungannya) pada waktunya menghadapi bahaya yang tidakdisangka sangka akan menimpa.
5. Selain itu masih banyak lagijika kita sengaja cari dari manfaat manfaat ameng tadi.

Bagi yang belajar ameng (penca)supaya lebih cepat menyerap (ilmu)nya, harus memiliki cita cita yang munculdari yang dirasakan sendiri, kemudian rajin dan tidak bosan. Cita cita yangbelajar ameng biasanya tiada lain kecuali dibinasakan atau membinasakan, jikadatang pukulan dari sini, begini menyambutnya, dipegang begitu, begitumembukanya, geraknya begitu, begitu mengejarnya, atau membinasakannya, sampaimusuh (lawan) celaka. Dengan kata lain tidak ada satu maksud yang ingin membuatorang lain (musuh) enak, tapi selamanya mencari jalan supaya musuh tidak bisaberdaya atau dibinasakan. Cita cita seperti itu jika menjangkiti orang yang ‘KOSONG’hatinya selanjutnya akan dijadikan alat untuk menyombongkan diri, merasa bisaini bisa itu, padahal hal tersebut pada kenyataannya sering kali ingkar darimaksud, sebab tadi juga sudah diceritakan bahwa tidak ada yang lebih,tergantung dengan kepintarannya dan kecakapannya saja. Begitu juga dalam urusankepintaran ameng relative sekali ukurannya, peribahasa MANUSIA TiDAK ILMUPENUTUPNYA, harus senantiasa ada yang lebih tinggi dari dirinya, meskipundengan sesama manusia lagi.
Kedua merasa sudah mahir, merasa dirisudah cukup, tidak perlu belajar lagi, terus mengajari orang lain (menggurui)
Karena sudah merasa bisa, ketikaterdesak sama orang lain, bukannya instropeksi dengan kemampuan yang masihrendah, tetapi sifat egois yang lebih di tonjolkan, akhirnya:
1. Menimbulkan pertikaian, padaakhirnya berantem saling bacok;
2. Menghina dengan pencanya, bahwapencanya jelek, buat apa belajar penca seperti itu, tidak terlihat menarik.
3. yang menyebar hanya kejelekan,kebaikannya belum tersampaikan, pada akhirnya semakin berkurang, wal hasiltidak kesana ke mari (menggantung).
4. Bosan.

Oleh sebab itu semoga pembahasanini menjadi CERMIN bagi yang suka belajar Ameng (beladiri)

Sekarang mari kita telusuriurutannta satu persatu.

1. CIMANDE

Ameng Cimande, yaitu yang menjadipoko kebangkitan ameng yang paling dulu gelar di tanah sunda, serta sudah dikenaldari jaman dulu. Adapun yang punya anggitan (pelopor) wallohu’alam siapa hanyasaja pertama muncul kepada umum yaitu dari jaman EMBAH KAHiR, malah beliaulahyang pertama menyebarkannya ke seluruh tanah Pasundan juga.

Siapakah Embah Kahir?
EMBAH KAHIR dilahirkan hinggabesarnya dikampung dan desa Kamurang onderdistrict Mande, district CikalongKulon, Kabupaten Cianjur,
Ketika masa beliau muda dan perkasa,mengajarkan ameng di kabupaten Cianjur, sabagian besar kepada para priyayi saja,jadi yang lain langka yang mengetahui.
Waktu jaman Kanjeng Dalem WiratanudatarIV (di Cianjur dikenal Kanjeng Dalem Sabiroedin, Embah Kahir sering mengajar kepadaprajurit dan kaum priyayi, malah pernah ditarungkan dengan Sengke di alun-alunCianjur, yang pada akhirnya Sengke itu kalah malah dalam buku Pangeran Kornel,karangan Raden Memed Sastrahadiprawira, keluaran Balai Pustaka juga disebutkan.
Tidak lama dari peristiwa itu
di Karawang di Pengewelan terjadikeributan, semua bangsa sengke melawan kepada Pemerintah, kemudian diatasi olehorang Cianjur beserta tempat lain sampai beres, malah hingga sekarang diKarawang ada kampung Babakan Cianjur, yaitu patilasan orang cianjur membuatperkampungan sementara (ngababakan) sewaktu menghadapi keributan melawan Sengke(perang Makaw kalau orang Karawang bilang) kemudian lagi menumpas Bagus Rangin,kepala berandal.
Dalam waktu itu tidak ada lagi amengkecuali  amengan Embah Kahir saja(CImande).
Lama kelamaan Embah Kahir pindahke Cimande, Kabupaten Bogor. Di Cimandenya kemudian mengajarkan ameng hinggasekarang turun temurun, hingga hampir seluruh tanah Pasundan hingga pelosoktidak ada yang tidak mengenal dengan penca Cimande, serta sebagian besar banyakyang sudah bisa. Jika ada hajatan/kenduri banyak yang sengaja disambungsambungkan dengan sesama temannya, serta kebanyakan beres tidak menjadikankericuhan apa apa.
Kesini kesini setelah banyakvariannya (rupa-rupa ameng) pada waktunya disambungkan sering kali menimbulkankericuhan, sebabkan masing masing ingin unggul tidak mau disebut jelek.
Lantas kenapa ada ameng yang laindi tanah Pasundan. Saperti Batawi, Ciwaringin, Sera, Depok, Cigondewa, dansebagainya, hal itu tergantung dengan tempatnya yang menjadi gurunya, saperti;gurunya tinggal di Ciwaringin, jadi ameng Ciwaringin, gurunya tinggal diNyengseret, jadi ameng Nyengseret dan sebagainya, namun asalnya Cimande Cimandejuga, kecuali  Cikalong dan Sabandar.

Ada ameng yang hampir se bulu denganCimande, se bulu dengan Cikalong, disebut Cimande bukan, disebut Cikalong jugabukan, yaitu Penca Cikaret. Penca CIkaret jika dilihat sekilas seperti cimande,namun pada prakteknya bersambung bukan Cimande, ada gerak dan rasa sepertiPenca Cikalong Apa Sebab hingga ada dua bulu?

Ketika Ajengan Cikaret (Sukabumi)masih hidup, beliau belajar Cimande dulu, kemudian belajar Cikalong, JadiCimande ada, Cikalong ada.
Menurut kebiasaan jika mengambilsalah satu ameng yang disukai, ameng yang lainnya kadang tidak dipakai lagi,pindah kepada yang disukai, namun tidak sampai lupa dengan amengan sebelumnya,sering ada saja paham paham sebelumnya yang sering digunakan, ya terbukti dalamameng cikaret. Dengan kepiawaiannya Ajengan Cikaret dalam mengajarnya hinggaada 2 bulu, yaitu bulu cimande dengan bulu cikalong.
ameng Cikaret tersebut kemudianmenyebar kepada anak cucunya Ajengan Cikaret dan kepada murid-muridnya.

2. CIKALONG
Adapun yang di sebut ameng Cikalong yaitu yang menyebar dariCikalong. Yang punya peran dalam meracik dan menyebarkannya yaitu Juragan Rd.Haji Ibrahim, tinggalnya di Cikalong, amengannya juga disebut ameng Cikalong.
Siapakah Juragan Haji Ibrahim?
Juragan H. Ibrahim dilahirkan di Cikalong, termasukketurunan R.A. Wiratanoedatar II. Setelah menginjak besar beliau dipeliharaoleh ayah angkatnya yaitu Juragan Aria Djatinagara (Meester Cornelis).
Karena Juragan Aria Djatinagara begitu sukanya dengan penca,beliau (Rd. H. Ibrahim) di suruh belajar penca. Serta hampir semua guru pencayang ada di Djatinagara, Bogor, Cianjur, Batawi oleh beliau di sambangi dandijadikan guru hingga tamatnya (selesai). Oleh Juragan Aria sering dicoba ditarungkan dengan gurunya, semuanya tidak ada yang kalah, hal itu menandakanbahwa kepiawaian Juragan H. Ibrahim sudah menandingi gurunya.
Dalam urusan penca Juragan H. Ibrahim boleh dibilang luarbiasa dari segi kecakapannya serta kepiawaiannya; jika dihitung seluruhnya yangsudah dijadikan tempat berguru olehnya ada 17 guru, semuanya hampir se bulusaja. Yaitu mengambil pokok dari Cimande, hanya beda sedikit sedikit saja.Sesuai kesukaan masing masing guru.
Di Cikalong pada waktu itu ada lagi yang punya kemahiran amengpenca yaitu suami kakak (kakak Ipar) Juragan H. Ibrahim, asal dari Jatinagara,namanya Juragan Ateng Alimoedin, ya dengan kakak iparnya, Juragan H. Ibrahimmengasah keterampilannya dalam urusan ameng penca.
Malah sepengetahuannya terhadap guru guru ameng yang ada dibetawi, berkat petunjuk Juragan Ateng Alimoedin.
Pada waktu umur 27 tahun, beliau memiliki pekerjaan jualbeli kuda, sekalian sambil belajar kembali ameng penca di Haji Ma’roep dikampong Pulo kuningan (Karet) Batawi.
Pada Saat itu ibarat sekarang kereta mesin saja, jikabepergian agak jauh, selalu menggunakan kuda, serta hampir setiap orang yangagak mampu pada memilikinya. Dan yang paling disukainya adalah kuda Sumba (kudaSandel)
Juragan Haji Ibrahim selalu membeli kudanya dari kapal untukpengiriman ke Bandung, Bogor, Cianjur, Sukabumi, Garut seperti biasa kepadapara priyayi memasoknya. Jadi Juragan H. Ibrahim pada waktu itu adalah Saudagarbesar.
Apabila kudanya habis, kemudian beliau ke Batawi lagi menujuke tempat Haji Ma’roep (biasa dipanggil Abang Ma’roep), menunggu kapal datang.
Sambil beliau menunggu kapal datang, tiap malam sering“bersambung” (beradu penca) dengan Haji Ma’roep) yang menjadi tempatpersinggahannya, layaknya mengusir rasa bosan sambil memeriksakan celah yangbelum ditemukan oleh beliau, dalam urusan penca. Malah selain beliau juga masihbanyak murid muridnya Haji Ma’roep yang sedang belajar, begitu juga masihbanyak yang sedang saling bersambung dengan sesame rekan murid muridnya.

Diceritaken di samping halaman tempat belajar penca, adasatu rumah, yang mengisinya orang Sumatera, namanya Bang Madi.
Setiap kali murid haji Ma’roep  sedang ramai berlatih, Bang madi hanyamenonton dari balik pagar pekarangannya, terkadang oleh haji a’roep suka diajakngopi di teras rumahnya sambil memperhatikan yang sedang berlatih, yaitu muridmurid Haji ma’roep yang sedang asik berlatih dengan sesama murid yang sedangmenghafal jurus.
Adapun yang di teras rumah hanya asik saja ngobrol urusandagang.
Setelah tidak ada Bang Madi masuk ke rumahnya, rupanya bosanberdiri di balik pagar, ditambah udara agak dingin karena makin larut malam JuraganHaji Ibrahim kemudian bertanya kepada Haji Ma’roep, beliau berkata : “Bang !siapa itu yang tadi berdiri disebelah pagar, rupanya dia demen sama bersilat,apa dia bisa bersilat, apa tidak,? Sebab melihat rupanya dia suka bersilat?”
Jawab Haji Ma’roep : “Ah. Dia si Madi orang sini, tidak bisaapa apa, Cuma liat liat aja seperti anak kecil, dia sering minum kopi di sinisembari meliat anak anak kita bersambung”
Dijawab oleh Haji Ma’roep begitu, Beliau tidak banyakberkata apa apa lagi perkara Bang Madi, kemudian lanjut membicarakan yang lainsambil ngopi hingga larut malam.
Sebenarnya Bang Madi adalah salah seorang ahli Penca, hanyabelum terbuka saja, Beliau berasal dari Pagar Ruyung residentje Jambi,Sumatera. Beliau pergi dari tanah kelahirannya karena diusir oleh orang orangsekampung, Sebab telah berani mengajar penca ke kampong lain. Setelah terluntalunta akhirnya sampai di Betawi, kemudian mengembara di Betawi, matapencahariannya adalah jual beli kuda afkiran dari kompeni.
Meskipun Bang Madi tukang kuda, tapi dengan Juragan H.Ibrahim belum lah kenal satu sama lain.
Dari mulai berangkatnya dari pagar ruyung tidak terceritakankisahnya, hanya setelah ada di Betawi saja.
“Aturan di Pagar Ruyung? Amatlah keras, sangat tidak bolehada penca keluar, kecuali di kampong Pagar Ruyung saja hingga sekarang.”
Itulah sebabnya mengapa meskipun Bang Madi sudah ada diBetawi tidak mau memperlihatkan kepiawaiannya kepada orang lain, apalagimengajarkannya tidak pernah memperlihatkan sama sekali bahwa beliau bisa penca.
Diceritakan Juragan Haji Ibrahim jam 4 subuh sudah bangunkemudian pergi ke Mushola untuk shalat Shubuh, setelahnya kemudian jalan jalanberkeliling perkampungan.
Kurang lebih setengah 6 pagi pagi beliau melihat kuda 5 ekordi halaman Bang Madi, kemudian merasa tertarik, maksudnya hendak di beli;ketika melihat lihat dari dekat, kebetulan Bang Madi muncul dari dalam rumah.
Juragan H. Ibrahim berfikir sejenak sambil melihat kudatersebut.
Pada saat yang sama Bang Madi masuk ke rumahnya mengambiltikar yang sudah agak lusuh di hamparkan di teras rumah, seraya berujar : “Dudukdulu disini Raden, biar kita berdami urusan kuda, ini ada kopi hanget, minumkopi dulu” sambil terus cangkirnya disodorkan. Juragan H. Ibrahim kemudianduduk di atas tikar sambil terus menatap kuda tersebut.
Dasar putra putra sunda harus memiliki jodoh dengan amengBang Madi, yang sekarang disebut ameng cikalong, setelah Bang Madi menyodorkankopi kepada Juragan haji Ibrahim, kemudian berkata : “tadi malem bukan mainramainya orang yang belajar bersilat di halaman Bang ma’roep, rupanya Radenjuga sudah pandai bermain silat, sebab tadi maelem saya liat Raden bersambungdengan Bang Ma’roep” Ujar Bang Madi dengan raut muka mesem.
Juragan H. Ibrahin dasar sudah sangat suka dari kecil(mendarah daging), mendengar kata “bersilat”, yang tadinya sedang asik menatapkuda langsung terperanjat menatap bang madi sambil berkata : “Iyah saya memangsuka bersilat, kalu begitu barangkali abang juga bisa maen silat”.
Bang Madi : “Ah, tidak Den, saya sih suka meliat meliat saja”.
Juragan H. Ibrahim : “Masa iya, jangan bohong bang, orangyang sudah tau belajar bersilat mudah aja keliatannya,” ujarnya sambil agakmemancing.
Bang Madi “ Ya tau juga sedikit tapi main begitu saja, sembarangan.”
Juragan H. Ibrahim dalam hatinya : “ Nah kebuka sekarang,coba sama saya mau dicoba, sebab tidak mungkin sanggup melawan saya juga,apalagi sama Bang ma’roep, sebab badannya saja tidak termasuk besar, apalagisudah berumur, Ah!! dibegitukan juga jatuh.”
Munasabah beliau (Juragan H. Ibrahim) dalam hatinya begitu,sebab sebagaimana diketahui dengan keberanian beliau dalam urusan penca jamanitu dapat dikatakan termasuk golongan paling jago, setelah dapat merobohkanguru guru maen po yang sudah di coba sama beliau. Apa lagi ini Bang Madi selainbukan guru apalagi perawakannya kecil dan terlihat lemah (tidak gagah). Pendekkata tidak ada yang perlu ditakutkan saja. Kemudian beliau mengajak bang madi,ujarnya : “ kalu begitu coba sama saya bersambung bang.!”
Bang Madi: “Ah, jangan main main Den, masa orang tua sepertisaya dapet melawan Raden”
Juragan H. Ibrahim : Kalu buat mencoba kan tidak apa, tohsaya juga tak akan mematiin abang.”
Bang Madi : “Kalu begitu, ya boleh, tetapi jangan disinimalu kelihatan orang, lebih baik dalam rumah saja.”
Juragan H. Ibrahim: “Baek.” Ujarnya sambil berdiri kemudianmasuk ke dalam rumah, membuka pakaian, siap siap mendekati bang Madi sepertiyang hendak benar benar mencoba.
“Coba bang, pasang yang kuat.” Ujarnya.
Bang madi tidak bergeming, tidak melakukan apa apa, biasadandanan tadi sewaktu pertama bertemu dengan Juragan H. Ibrahim saja.
Kemudian bang Madi pasang, tangan kanan agak ke depan,sedang tangan kiri agak pendek, kaki serong sedikit, kepalan tangannya separuhterbuka dan agak menungkup ke bawah.
Ujar Juragan H. Ibrahim: “Ah, bang, biar betul pasangnyajangan begitu, pasangan apa itu ? yang betul saja bang supaya nanti abangjangan penasaran.” Berucap begitu seperti terlihat merendahkan.
Bang Madi: “ Betul Den, tidak ada lagi, Cuma sebegini;Pasanagan ini namanya “Macan turun dari gunung.”
Tidak banyak berkata lagi tiba tiba oleh Juragan H. Ibrahim “di sambut”………
Apa yang terjadi..? ….. Juragan H. Ibrahim terlihat jatuhterlentang….
Beliau berdiri lagi , sambil menyuruh pasang lagi kepadabang madi.
Dengan hati hati dan waspada kedua kalinya “nyambut” lagipasangan Bang Madi, namun seperti sebelumnya saja beliau yang terjungkal,setelah beberapa kali di coba, namun tetap beberapa kali beliau terjungkaljatuh.
Kemudian berfikir mencari akal supaya baisa berguru kepadabang madi dengan leluasa tidak di ketahui bang ma’roep. Tidak lama kemudianbeliau mendapat akal, kemudian berkata kepada Bang Madi, ujarnya: “ Betul sayaterima kalah bang, saya tidak sangka abang begitu pande main silat; tetapisekarang kita kembali tentang hal jual beli kuda; itu kuda yang 5 saya belisemua, dengan harga f 300, saya tidak tawar lagi, tetapi nanti jam 3 malem,musti abang bawa semuanya kuda itu, tunggu sama abang di cillilitan.
Jangan salah Bang! Kalu saya belon datang ke Cililitan,abang jangan pigi kemana mana, sebab nanti kalu abang tidak keberatan, abangmusti ikut saya ke Cikalong, buat anter ini kuda sebab saya tidak bawa temenlagi. Buat ongkos ongkos saya tanggung semuanya, dan nanti buat abang pulanglagi ke Betawi, saya akan kasih seekor kuda jampang.”

Bang Madi: “Baik Den”

Diceritakan paginya jam 3 subuh Bang Madi sudah menunggu diCililitan, serta ketika disamperin oleh Juragan H. Ibrahim, tidak menunggu lamakemudian langsung ikut serta ke Cikalong.

Sepanjang jalan Juragan H. Ibrahim merasa gelisah hatinyabakalan memiliki guru silat yang begitu hebatnya, dalam hatinya : “ Saya sangatberuntung sekali punya guru sangat hebatnya, apalagi terbawa pulang, bisaleluasa belajar tidak akan ketahuan oleh bang Ma’roep. Benar benar Bang Ma’roepitu “Mata Peda” (mata ikan peda), meskipun sudah bertetangga bertahun tahun danbegitu akrabnya tapi belum bisa terbuka. Ah barangkali ini saemata mata jodohsaya saja, sebab seumpama telah terbuka sama bang Ma’roep belum tentu menjadimilik saya, sebab belum tentu saya bisa langsung belajar ke bang madi.”

Pendek cerita, sesampainya di Cikalong beliau benar benarbelajar dengan diat dan rajin, berguru tidak kenal siang maupun malam,senantiasa menanyakan berbagai masalah silat kepada yang jadi gurunya (BangMadi). Wal hasil latihan pun tidak memakan waktu berbulan bulan, hal ini karenagiat dan rajin yang belajar. Apalagi telah memiliki dasar silat dari awalnya,hampir semua ilmu Bang MAdi turun kepada beliau. Amengan silat beliau yanghasil berguru dari 17 guru sudah hampir telupakan.

Ujar Bang Madi kepada Juragan H. Ibrahim : “Den, perkarabersilat sudah cukup. Tak usah belajar lagi, tapi sekarang ada seorang guruyang cepet pukulannya, namanya Bang Kari di Benteng, kalu Raden mau belajarlagi boleh coba coba.”


Sepulangnya Bang Madi ke Betawi, tidak perlu menunggu lamabeliau (Juragan H. Ibrahim) berangkat ke Benteng menemui Bang Kari.

Tidak diceritakan begini begitunya, singkat cerita JuraganH. Ibrahim diterima berguru “Pukulan” oleh Bang Kari.
Ketika mulai bersambung menjajal kemampuan masing masing,mereka berdua masing masing kaget; Juragan H. Ibrahim kaget melihat peupeuhanbang Kari yang begitu cepatnya, terus menerus tiada jeda, begitu juga bang karikaget karena merasa peupeuhannya tidak ada yang masuk kepada Juragan H.Ibrahim, sebab biasanya ahli ahli silat tidak ada yang tidak kewalahan, tapisekarang merasa pukulannya yang bertubi tubi tidak ada yang masuk. Meskipubbegitu Bang kari masih terus saja menyerang Juragan H. Ibrahim, pikirannyameskipun tidak kena dari atas, dari bawah tentu kena.
Kebetulan ketika Juragan H. Ibrahim sedang sibuk membuangpukulan bang Kari, Kaki beliau agak menjulur ke depan, secara tiba tiba bangkari menghentakan kaki maksudnya hendak menginjak.
Melihat kerasnya tenaga, barangkali tidak mungkin tidakremuk kaki Juragan H. Ibrahim, namun apa yang terjadi…?
Secepat kilat Juragan H. Ibrahim membelokkan kakinya, sehinggakaki bang Kari hanya mengenai papan lantai rumahnya (papan lantai rumahpanggung) hingga hancur, akibat kerasnya tenaga kaki yang menginjak. Setelah itubang kari berhenti, kemudian berujar: “raden; sudah cepet betul dari urusanbersilat, saya belon pernah mendapet lawan yang cepet seperti raden; saya rasaRaden sudah cukup, tak perlu belajar lagi.”
Pada waktu berangkat lagi ke Betawi pernah beliau mencobamenghadapi bang Ma’roep bekas gurunya dahulu, namun bang ma’roep tidak berdaya,malah laksana dipermainkan oleh Juragan H. Ibrahim.
Semenjak itu Juragan H. Ibrahim sudah merasa puas, nafsunyadalam berguru lagi sudah berkurang, hanya tinggal memahamkan dan memperhalushasil berguru beliau dari bang Madi.
Berkat kepiawaian Juragan H. Ibrahim dalam urusan silat,pernah diceritakan ada ya yang menjajal di serang menggunakan gobang di “babuklalaykeun” hingga tidak mengenainya, selain itu juga dalam merebut gobang ,tidak seperti yang lainnya (sebagaimana tukang penca), namun beliau menangkap bilahyang tajam di capit dengan kedua jari, telunjuk dan ibu jari layaknya seoranganak memegang ekor capung, kemudian diputar yang asalnya bilah yang tajam daribawah menjadi ke atas. Malah saking kuatnya yang memegang gagang gobang berlawanandengan kerasnya yang menangkap dan memutarkan bilah gobang, hingga gabangtersebut lepas dari gagangnya.
Itulah bukti betapa semakin pesatnya kemajuan beliau dalamurusan Silat
Semasa hidupnya Juragan H. Ibrahim, oleh beliau sering diwejangkan kepada keluarganya dan putera puteranya. Diantaranya yaitu Agan Brata(putera) dan Juragan H. Tarmidi (keponakan). Pada waktu Juragan H. Ibrahimwafat, Agan Brata baru menginjak usia 15 tahun (1912).
Berkat kedua puteranya itulah tersebarnya ilmu silatBapaknya, serta karena mereka tetap tinggal di Cikalong, akhirnyakebangkitannya pun terkenal di sebut Penca Cikalong. Hanya saja Agan Bratadalam usia 42 tahun wafat, yang meneruskan di Cikalong yaitu Juragan R.H.Tarmidi, Naib Cikalong.
Setelahnya Penca Cikalong meneyebar kemana mana, sebagaimanaCimande saja banyak yang berganti sifat, asal begini menjadi begitu, menurutkemampuan dan keinginan yang mengajarkan. Namun bagi yang sudah bisa semuanya satu bulu saja.

Untuk menjaga supaya ke depannya tidak kacau, yaitu seperti ada yang mengaku bahwa bisa penca cikalong, namun dalam prakteknya banyak yang keliru, bahkan jauh sekali, disarankan kepada semua yang senang belajar ameng/penca, pada waktu belajar itu haruslah menurut berdasarkan apa yang diajarkan gurunya, jangan dulu ingin mengubah, nanti juga dimana sudah paham,akan mempunyai rasa yang bisa dirasakan sendiri supaya lebih sejalan, lebihenak, lebih reflek, lebih lincah, dan tidak keliru keluar dari galur asal;sebab seumpama tidak begitu, tentunya semakin lama kebangkitan ameng/penca kita, bukan semakin bagus, namun semakin menuju kemunduran. Sebab banyak raehan(pengembangan) yang tidak sesuai, yang keluar dari patokan.


Demikian Sejarah Kebudayaan Penca Bagian pertama.Insya Allah sambungannya akan diposting kemudian dalam judul SEJARAH KEBUDAYAAN PENCA BAG.II




Tidak ada komentar:

Posting Komentar