Salam sejahtera untuk kita semua
Berjumpa kembali dengan postingan kami kali ini yang berisi tentang SEJARAH KEBUDAYAAN PENCA BAGIAN II.Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya yang berjudul SEJARAH KEBUDAYAAN PENCA BAGIAN I
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua.aamiin.
SEJARAH KEBUDAYAAN PENCA BAG.2
Oleh Deni
Priyatin pada 25 Oktober 2013 pukul 17:32
3. Sabandar.
Yang memiliki penca Sabandar yaitu namanya Muhammad Kosim, tinggalnya di kampung Sabandar Cianjur.
Beliau masih berasal dari pagar Ruyung, jadi dengan BangMadi masih satu kampung halaman, hanya tidak bersamaan saja pada saat pergi meninggalkanPagar Ruyung. Bang Madi lebih dulu.
Mengapa dikenal dengan Ama Sabandar, sebab beliau adalah orangyang dituakan, bukan hanya oleh orang Sabandar saja, namun oleh hampir semuaorang Cianjur, disebabkan baik budi perangainya, dan hampir semua orang punmemanggilnya Ama saja.
Penca Sabandar dengan Cikalong jika dilihat sekilas hampir sama,karena yang membawanya juga sama sama berasal dari Pagar Ruyung, hanya bedasedikit sedikit saja, sementara dari segi “tangtungan” (kuda kuda) dan Pasanganhampir tidak ada bedanya.
Lantas dari segi apa bedanya….?
Di sini tidak bisa diperlihatkan dengan sekedar tulisan,sebab tidak akan terlalu jelas, harus praktek dulu, dijalani (belajar) keduaduanya, baru bisa membedakan yang sebenarnya.
Murid Ama Sabandar yang pernah belajar kepada beliauterhitung banyak, sebab siapa saja yang bermaksud belajar kepada beliau diterima, hanya saja dalam mengajarnya “bengis”, seperti yang diambil “bosan”nya,mau ya sukur tidak terserah. Itulah sebabnya mengapa murid muridnya langka yangtamat belajarnya, sebab keburu bosan. Namun meskipun begitu jika ada murid yangterlihat Khusyu’ belajarnya, dan adat istiadatnya bagus, punya bakat selalu maumengalah, dalam mengajarnya sering diteruskan dengan rahasia rahasianya, namuntidak banyak murid murid beliau yang dipercaya begitu, hanya satu dua saja.
Sebelumnya Ama Sabandar datang ke Cianjur, dahulu pernah berkisah,yang menurut dongeng beliau seperti ini:
“Ama berasal dari Pagar Ruyung, hoby dari kecil bermain perahudi Sungai Batang Hari. Setelah dewasa bermain perahu semakin jauh, terkadang sampai ke muara sungaiBatang Hari, menumpang dengan yang mengangkut barang untuk dimuatkan ke kapal.Di kapal Ama sangat senang melihat Matros matros (ABK) yang sedang bekerja,sehingga akhirnya berbicara kepada Kapten ingin diterima menjadi Matros, serta kebetulan sekali diterima. Semenjakitu Ama menjadi Matros , serta sering berlayar ke pulau pulau di tanah Hindia.
Pada Satu waktu kapal berlayar ke Palembang, dari Palembangterdapat kurang lebih 30 orang yang menumpang, maksudnya hendak ke Banjarmasin.Sewaktu berlayar dekat pulau Belitung kurang lebih pukul 9 malam, diantara parapenumpang tersebut, rupanya terdapat kepalanya berbicara kepada teman temannyayang lain, ujarnya : “ Hey, kita bermain sambil menunggu waktu tidur, cobadiantara rekan rekan kita siapa yangyang bisa menusukkan keris ini kepada ku; Jika kena atau mencelakai, aku beriupah 100 ringgit, nih duitnya, nih kerisnya.” Sambil melemparkannya ke hadapan rekanrekannya. Ketika itu Ama sedang tiduran istirahat di Palkah atas, mendengar adayang berbicara begitu, apalagi di beri upah 100 ringgit begitu, Ama merasatertarik, kemudian turun, sambil berkata bahwa Ama sanggup mencelakai orang tersebut. Tapi orang tersebutberkata :
“ Ah bukan sama kamu, aku hanya kepada rekan rekanku.”
Akhirnya Ama tidak jadi, kemudian kembali ke atas palkahmaksudnya untuk beristirahat kembali.
Ketika Ama sedang beristirahat di Palkah atas, si Kepalaorang Palembang lantas berkata lagi kepada rekan rekannya, ujarnya : “Jikabukan di kapal dan bukan matros, mungkin di hajar; cukup bagiku untuk melawan 2sampai 3 orang sepantaran begitu.” Mendengar omongan seperti itu Ama tak tahan,terus ganti berpakaian biasa, turun menghampiri orang Palembang tersebut, Kata Amasambil menginjak sekantung uang yang tadi dilemparkan; “ Sekarang bukan kamuyang ditusuk, tapi aku sama kamu; jika kamu tidak bisa menusukku, uang initidak akan dikembalikan sama kamu.”
Si Kepala orang Palembang tersebut secepat kilat mengambilkerisnya dan menusukkannya kepada Ama, namun oleh Ama selalu dihindari hinggadia kelelahan, kemudian setelah kelelahan menyerang Ama dengan tusukankerisnya, selanjutnya keris itu direbut oleh Ama, dilemparkan ke tempat yangjauh. Setelah kerisnya dilempar, Dia menubruk kepada Ama sambil mengambil uang yangAma injak; oleh Ama di pegang kepalanya, diadukan dengan lutut kaki yang sedangmenginjak uang; saking kerasnya dia menubruk dibantu dengan tenaga kejut(nyentok), kepalanya di adukan dengan lutut, hingga mukanya penyok melesak kedalamlutut Ama, serta meninggal seketika.
Rekan rekannya ricuh langsung mengeroyok Ama, hanya saja Amakeburu loncat ke atas palkah kapal, serta uang yang 100 ringgit dibawa,menurunkan sekoci, di ikuti dengan meloncat ke atas sekoci terus didayung kaburse jauh jauhnya.
Dikarenakan Gelap, Ama tidak tertangkap, besoknya menepi kepesisir bawahan Lampung, dari Lampung terus kabur ke Batawi. Di Batawi usaha dibidang Jual Kuda, uang yang 100 ringgit dipakai modal, karena uang yang takjelas, di pakai usaha juga bukannya untung malahan habis.
Ama kemudian pergi lagi dari Batawi berniat untuk mengembarakemana saja kaki melangkah, akhirnya sampai ke sini (ke Cianjur).
Disini Ama menemukan jodoh, memiliki rumah di kampung Sabandar,serta punya perusahaan memproduksi dan berdagang ‘Kue Cara” ; berkah pun agakberjodoh dengan usaha tersebut, buktinya bisa hidup seperti ini, selain itubisa memberi dan membuat kebaikan untuk tetangga.
Diantara tetangga Ama ada satu tukang penca, namanya AtengKadri, asal orang Jatinagara. Beliau sering main ke rumah Ama mengajak bermainmain bersambung (penca), sebab di sangka Ama orang betawi, tentu bisa penca.Awalnya oleh Ama tidak digubris, hanya beliau terus datang lagi datang lagimengajak tandingan.
Dikarenakan dengan Ama sudah lama akrab, ya satu waktu diladeni saja. Kejadiannya beliau tidak kuat, tidak bisa masuk kepada Ama.Akhirnya terus berguru kepada Ama. Setelah beberapa waktu, datang silihberganti yang lainnya hendak berguru kepada Ama seperti : Juragan Rd. H. MoehAmadMoesa, Juragan Rd. H Moehamad Enoh (ayahnya Juragan Hoofd-Penghulu Cianjur yangkeduanya telah menerima pengajaran dari Juragan H. Ibrahim, maksudnya bergurukembali kepada Ama, supaya tambah ilmu mengenai urusan penca).
Selain itu masih banyak para priyayi di Cianjur yang inginberguru kepada Ama. Hanya saja tidak diterima semua, yang terlihat berperangaidan tingkah lakunya tidak berkenan di hati Ama, tidak diladeni.”
Begitulah ringkasnya perkataan Ama Sabandar dalammenceritakan kisahnya.
Diceritakan pada jaman itu di Cianjur terdapat Guru Tarekatyang termasyhur, dikenal dengan Ajengan Cirata. Banyak kiayi kiayi yang bergurutarekat kepada beliau, bahkan Ama Sabandar juga ikut berguru, serta termasukkepada santri yang paling setia. Ajengan Cirata beserta kiayi kiayi yanglainnya pada berguru penca kepada Ama Sabandar, sejak itulah di Cianjur banyaksekali kiayi kiayi yang bisa dengan penca Sabandar.
Dimana terdapat kampung yang kurang Aman oleh Ajengan Ciratadidirikan Pesantren, hingga kampung tersebut Aman, tidak ada penjahatpenjahat dikarenakan takut kepadanya. Lamakelamaan Ajengan Cirata pindah ke Purwakarta, bahkan Ama Sabandar juga turutserta pindah ke Purwakarta. Di Purwakarta Ama Sabandar mengajarkan Penca, hanyasangat lah selektif dikarenakan menurutnya pada masa itu di purwakarta kurangbegitu Aman. Murid murid di Purwakarta yang telah di sebut piawai yaitu Rd.Abdurrahman dikenal Rd. Abu, Rd Natapura dengan Rd Djenal, waktu itu PenghuluNaib Sindangkasih (Purwakarta).
Pada waktu itu Kanjeng Dalem Purwakarta Sedang hoby denganberburu, terutamanya berburu harimau, pawang penangkapnya yaitu Ama Sabandar.Pada waktu itu Ama Sabandar sering ditandingkan dengan hariAmau tersebut.Istrinya Ama Sabandar yang di Purwakarta wafat, beliau memiliki isteri lagikepada orang Wanayasa, yaitu Kakaknya Rd. Sasmita dikenal Ama Agen, bahkan beliau pun tinggal di Wanayasa saja, hinggawafatnya tahun 1886, serta tidak memiliki anak sama sekali.
Ketika Ama Sabandar di Purwakarta, ada satu kejadian orangBugis makasar yang mengamuk lantaran cemburu.
Karena mengamuk didalam rumah serta mengunci diri, maksudnyayang pertAma kali hendak dicelakai lebih dulu adalah isterinya sendiri, bahkanketika itu sedang menjerit jerit karena di ikat terlebih dahulu oleh orangBugis tersebut.
Tangan kanan Orang Bugis tersebut memegang gobang, gagangnyadiikatkan pada pergelangan tangan dengan tali, supaya tidak lepas seumpAmadirebut orang lain, sedang tangan yang kiri memegang tumbak, itu pun diikatkanpada pergelangan tangannya.
Tentu saja orang orang sekampung rebut laporan kepadapemerintah, bahwa ada yang mengamuk. Secepatnya di datangi oleh para ponggawayang hendak menangkapnya.
Ketika datang tidak bisa masuk, sebab dikunci lagi pulatidak ada yang berani memasukinya, dari melihat (diintip dari sela sela dindingbilik) di rumahnya sedang bersiap siap menunggu yang masuk hendak dibinasakan. Akhirnya Kanjeng Dalem memerintahkankepada Ama Sabandar, supaya orang Bugis tersebut di tangkap, itu pun seandainyabisa di tangkap hidup hidup.
Ama Sabandar merasa keberatan jika orang bugis tersebutharus ditangkap hidup hidup, hanya menyanggupi bagaimana buktinya nanti.
Karena rumahnya dikunci, Ama Sabandar masuk memalui dapur,dengan membuka bilahan bambu penguat sisi dinding bilik selanjutnya masuk,kemudian untuk menjaga apabila yang sedang mengamuk tersebut keluar, bilah bambutersebut diperintahkan untuk dipaku kembali supaya dinding bilik tersebuttertutup rapat kembali.
Di dapur selanjutnya Ama sabandar menyalakan perapian, yangdimaksud supaya orang bugis tersebut menghampiri dan menyerang kepada beliau;Beliau meniup perapian dengan songsong (batang bambu bolong untuk meniupperapian) dengan kencang sehingga suaranya terdengar nyaring, tujuannya supayaterdengar oleh orang Bugis tersebut.
Tatkala mendengar Ada orang dan suara tiupan melalui songsong(batang bambu bolong untuk meniup perapian), orang Bugis tersebut muncul didapur, Ama Sabandar disabet oleh gobang kemudian ditusuk oleh tumbak daribelakang, sebab pada saat itu Ama Sabandar sedang membelakangi.
Oleh Ama Sabandar di tepiskan gobang beserta tombaknya. Sehinggabadan Orang Bugis menjadi menempel memeluk di punggung Ama Sabandar, sedang kepalanyaberada di atas pundak Beliau.
Saking cepatnya gerakan Ama Sabandar, saat itu juga orangbugis tersebut kepalanya di putar hingga wajahnya terbalik ke belakang. Setelahmati kemudian di serahkan kepada politie.
Pada Waktu itu Juragan H. Ibrahim masih muda, begitu juga AmaSabandar belum datang ke tanah Cianjur.
Diceritakan di Onderdenning Kasomalang (Subang : Pent) kirakira perjalanan setengah hari dari Wanayasa, tuan Tanahnya Suka memelihara sapiperah. Pada waktu itu tuan tanah seringkali merasa jengkel karena tiap malamseringkali ada harimau lodaya yang menerkam sapinya. Pada suatu hari, pagipagi waktu pegawai tuan tanah tersebut hendak memerah sapi, ada harimau lodayamasuk ke dalam kandang sapi, kemudian menerkam anak sapi dengan tanpamenghiraukan orang orang yang berada di sana.
Harimau itu kemudian membawa anak sapi tersebut menuju “Sedong” yang berada pada satu “parigi” di sisi tegalan tempat penggembalaan.
Si Bujang tukang perah tersebut kemudian lapor bahwa adakejadian seperti itu kepada majikannya, seterusnya majikannya kemudianmengumpulkan orang orang untuk mengepung harimau tersebut, sambali membawaberbagai senjata, ada yang membawa tumbak, ada yang membawa bedil (senapan),namun harimau tersebut tidak mau keluar, diam saja dalam “sedong” sambilmenerkam anak sapi tadi.
Tuan tanah berteriak memerintahkan untuk mendekati “sedong”namun tidak ada satu pun yang berani, mengingat harimau yang begitu besarnyadan terlihat nekat.
Tuan tanah merasa bingung, kemudian membuat sayembara,baarangsiapa yang bisa merobohkan harimau tersebut akan diberi imbalan 10ringgit beserta seperangkat pakaian, namun semua yang berada di sana tidak adasatu pun yang berani.
Dikisahkan ada seseorang yang memberitahu tuan tanah bahwadi Wanayasa ada seorang Pawang yang seringkali di tandingkan dengan Harimau,namanya Ama Sabandar.
Saat itu juga Tuan tanah tersebut memerintah untukmengundang Ama Sabandar dengan menggunakan kuda.
Pada waktu itu yang hendak di undang sedang jalan jalan dipekarangan rumahnya, Menggunakan sarung, berpakaian baju takwa model kebaya.
Tatkala Ama Sabandar mendengar permintaan Juragan Tuan Tanahtadi, tidak perlu masuk rumah dulu, sebab harus berangkat saat itu juga,kemudian langsung naik menunggangi kuda di pacu menuju ke Kasomalang.
Sesampainya di Kasomalang kemudian menemui Tuan tanah, sertasetelah berembug perkara upah dan memeriksakan hal ini dan itu, Ama Sabandarberangkat ke tempat hariamau berada, hanya saja sebelum bertindak beliaumemastikan dahulu barangkali Tuan tanah tersebut memiliki Tombak.
Ujar Tuan tanah : “Ada, tapi kecil”
Ujar Ama Sabandar : “ tidak mengapa, kecil juga”
Selanjutnya Tombak diambil oleh beliau.
Ketika datang ke tempat harimau berada, kemudian melihatlihat, namun tidak Nampak terlihat; beliau merasa curiga, kalau kalau harimautadi menyerang membokongi, akhirnya loncat ke sebelah sisi parit seberangsedong tempat persembunyian harimau tadi. Oleh beliau terlihat harimau di dalamsedong, kemudian di tepuki sambil melambai lambaikan tangan. Harimau merasaterganggu, kemudian muncul dari dalam sedong sambil mengaum, serta bersiap siaphendak menerkam musuhnya.
Oleh Ama Sabandar terus di soraki, sambil bertepuk tepuktangan, yang dimaksud supaya harimau loncat menerkam dirinya, namun harimautersebut enggan, bahkan hanya menyeringai memperlihatkan taring dan giginya.
Karena harimau tersebut enggan untuk menerkam, selanjutnyaoleh beliau dilempar dengan tombak; tombak oleh harimau tersebut ditangkis,terlempar kembali ke hadapan Ama Sabandar, dengan kondisi bagian yang tajamsudah bengkok.
Ama Sabandar merasa jengkel, kemudian beliau meloncat hendakke sisi sebelah lain mendekati harimau tersebut, namun ketika baru sajameloncat, harimau tersebut langsung menyambutnya dengan terkaman, hinggaditengah tengah parit berhadapan. Oleh Ama Sabandar terlihat sekilas bagianperut harimau yang berwarna putih, tidak tanggung tanggung secara tiba tibalangsung di tending.
Saking kerasnya tendangan harimau terlempar kembali lagi ketempat asal, beliau juga terlempar kembali ke tempat semula.
Harimau menyeringai, Oleh Ama Sabandar kembali di sorakidengan bertepuk tepuk sambil melambai lambaikan tangan, namun enggan untukmenerkam lagi, dari sana kemudian beliau meloncat mendekati harimau; yangdihampiri menerkam namun dihindari dengan elakan oleh beliau, di tangkapekornya, kemudian di putar putar selanjutnya dilemparkan ke tegalan, di susulkembali oleh beliau.
Sesampainya di tegalan harimau menerkam kembali, oleh beliaudibuang (digiwarkeun) serta di tangkap paha belakangnya. Harimau mencakar kebelakang, oleh beliau di sodorkan paha sebelah kanan, tentu saja cakaran taimengenai pahanya sendiri, mencakar ke sebelah kiri, di sodorkan paha sebelahkanan, tentu saja senjata makan tuan.
Setelah agak lama di permainkan, kemudian harimau tersebutdi dorong ke depan, serta saking kerasnya yang mendorong harimau itu laksanakucing yang tak berdaya, hingga mengelinding laksana bola.
Harimau semakin geram, kemudian menerkam lagi, oleh Amasabandar di tangkap moncong sebelah bawah, kebetulan sebelah yang kosong tidakbergigi, kemudian dipermainkan kembali. Harimau mencakar ke depan kemudian dicentok (dikejut) moncongnya ke bawah, tentu saja maung tersungkur ke bawah,tidak jadi mencakar lantaran keburu merasakan sakit. Sedang kepalanya hendakberadu dengan tanah, hal ini berlangsung terus menerus beberapa lama.
Diceritakan, orang orang yang mengelilingi menyaksikan,merasa tidak sabar saking ketakutannya, khawatir seandainya harimau tersebutlepas, kemudian mengamuk kepada orang orang yang berada di sana. Diantara orangorang yang menyaksikan peristiwa tersebut ada yang berteriak :” Jangan dipermainkan..!” apakah tidak tahu itu harimau..!!! bukan kucing…!!! Cepat bunuhh!!!.
Oleh Ama Sabandar terdengar, selanjutnya kepala harimaulangsung di pukul sambil membacakan : “ Hadir ya Ali…!!!!.”
Prakkk!!!! Kepala harimau tersebut remuk , isi otaknyamuncrat, seketika terbujur menjadi bangkai.
Diiringi dengan sorakan orang orang. Ama Sabandar di angkatdi elu elukan dihadapkan kepada Tuan Tanah tadi.
Oleh Tuan Tanah di beri ucapan terima kasih sambil di berihadiah uang 10 ringgit, satu stel pakaian, seekor kuda untuk dgunakan beliaupulang ke Wanayasa.
Penyebarannya
Penca Sabandar menyebarnya di Cianjur, jadi di Cianjur susah dibedakan mana penca Cikalong, dengan mana Penca Sabandar, sebab masih sebulu (satu rumpun). Hanya dalam jurusnya apabila belajar dengan rupa rupa penca kemudian di teliti satu persatunya baru akan ketemu, ini Sabandar, Ini Cikalong, ini Cimande.
Sabandar dalam sikap pasang hampir seperti tidak sedang melakukan pasang, seperti yang berdiri biasa saja, atau ada juga yang pasang serong,sebab sebagian besar serong.
Ama Sabandar dalam mengajarnya tidap pernah sama, mengukurbagaimana orangnya saja.
Jika orangnya berbadan kecil, diberi yang baris (langkah)pelit, sedang yang besar diberi yang seimbang dengan besarnya.
Di purwakarta dan di Wanayasa hampir hilang, hanya pencaSabandar tahu, rupanya di dua tempat tersebut tidak begitu terlalu suka atautidak diberikan oleh Ama Sabandar, dengan pertimbangan kurang perlu, sebab manamungkin jika tidak mau belajar.
Begitu juga muridnya yang terhitung bisa di Wanayasa. AmaWekling, kesini kesininya Juragan Sutawijaya dengan Ama Agen, tidak menyebarkanlagi, hanya sekedar untuk sendiri saja.
Sebisa mungkin yang diharapkan Penca Sabandar ini semakinmaju, jangan berkurang, seperti Cikalong dengan Cimande.
Namun sejatinya penca yang berasal dari Cianjur sekarang,Cikalong dicampur Sabandar, hanya saja yang belajar maupun yang mengajarnyajuga tidak mengetahui, mana jalan Cikalong dengan mana Sabandar.
Sebab yang mengajar Sebagian besar anak anak muda.
Jangan kaget jika kita belajar dari orang Cianjur, Cikalong,Bandung, namanya sama, namun pada prakteknya bermacam macam; itu tiada lainkarena sudah bercampur aduknya Cikalong dengan Sabandar.
Pendek kata sumber mata airnya penca itu adalah tanah Cianjur.
Oleh sebab itu sering terkenal dengan istilah nama tempatnya,yang oleh anak anak muda sering disebut “Cianjuran”
Yang menyebutkan penca apa saja, tidak masalah, yang pentingasal penca yang menggunakan rasa dengan gerak, itu asalnya dari tanah Cianjur,ke sana nya dari Pagar Ruyung Sumatera Tengah.
Orang tanah Cianjur, sering benar benar (junun, profesional) dalam segalahalnya, dalam hal kepintarannya unggul, maupun dalam hal bodohnya tidakmengerti Alif bengkok sama sekali (tidak bisa membaca). Dalam kebaikannya jadi "Holidi", Dalam Hal jahatnya tidak kepalang tanggung, dalam tembang penca, dalamsegala hal apa saja seringkali selalu sampai derajat masternya. Begitu jugasebaliknya. Itulah kenapa ada istilah Sunda “ CIANJUR KATALANJURAN”(Terlanjur).
Oleh karena itu susah mencari tanah yang segala ada sepertidi tanah Cianjur. Kita apabila lama mengembara di tanah Cianjur, sering padabertanya, coba bagaimana pencanya, ngajinya, mamaosnya (kawih), itu hampir disemua tempat sudah biasa seperti itu (sudah menjadi adat).
Pesan bagi semua yang sedang atau sudah belajar penca, jangan sampai menyimpang dari wejangan gurunya, seperti: Coba coba menantang, banyak tingkah, di jalan jalan, di tempat umum, sebab kurang bagus terlihatnya.
Biasanya bagi yang belajar penca, jika baru belajar, seringkali ingin terlihat oleh orang lain (sombong) , bahwa saya bisa penca, berani kepada siapa saja, kecuali gurunya, bahkan sudah merasa cukup punya ilmu. Hal ini perlu di jaga sekali, sebab akan tidak akan sampai mahir dalam belajar terus.
Adapun perkara ilmu penca tidak akan pernah selesai, hanya akan selesai dengan mati, orang akan selamanya belajar saja.
Jika seseorang telah memiliki pemahaman yang tinggi, akan menjadi sebaliknya, senantiasa hati hati dalam bersikap, jika ada apa apa gimana nantinya.
Jadi umpama kita telah belajar, kita bisa menilai, seseorang masih tingkat bawah atau baru belajar, atau telah mencapai tingkat tinggi, menurut keadaannya.
Begitu juga bagi orang yang bagus ngibingnya, itu juga tidak menjadi patokan, bahwa orang tersebut amat jago urusan pencanya. Melainkan Itu hanya sekedar bagus dalam ibingnya saja.
Oleh karena itu amat lah sulit untuk menilai seseorang mana yang pintar, dan mana yang masih tingkat bawah dalam urusan penca.
Seumpama sudah bersambung, barulah kita bisa menentukan seseorang itu lebih tinggi dari kita, seimbang, atau lebih bawah dari kita.
Pada sebagian orang yang mengerti, meskipun tingkatnya lebih atas, tidak pernah mau berusaha menjatuhkan, namun hanya sekedar di ajak bermain saja, namun kita barangkali akan mengerti dan terasakan, bahwa orang ini tingkatannya lebih tinggi, sebab semua kekuatan dan serangan kita tertutup, tidak bisa masuk, tentu saja orang tersebut jangan dianggap seimbang kemampuannya dengan kita.
Bagi orang yang suka ngibing penca, di minta kepada yang menyukai dengan ibing penca dalam hal pakaiannya, dalam ngibing sebisa mungkin jangan merobah ciri khas sunda (kasundaan), namun harus berdasarkan yang semestinya pakaian ki sunda tulen, sebab dari jaman dulu juga tradisi sunda (ki Sunda) begitu, hanya tidak boleh memakai potongan, atau celana komprang pada waktu ngibing.
Pada khaulan jaman dahulu biasanya yaitu
Baju kampret putih yang bersih, celana sontog, atau celana pendek sampai lutut, udeng, dengan samping tenun di lilitkan sebagai sabuk di pinggang, di dalam atau di luar baju tidak masalah.
Supaya tidak keliru bagi yang sedang belajar, berikut dijelaskan pakaian pakaian yang biasa di pakai untuk penca.
Kuntau : Baju hitam (tuwikim), celana komprang hitam, dikerepus cara batok hitam, sepatu tiongkok.
Dikarenakan kerepus cara batok, di pulau jawa tidak ada, akhirnya diganti oleh sapu tangan (diteregos).
Dandanan seperti ini hampir oleh semua generasi sunda yang belum tahu, dipakai pada waktu ngibing penca, rupanya amat diperlukan sekali. Bedanya hanya tidak memakai sepatu tiongkok saja.
Disarankan bagi yang menyukai dengan penca sunda, pakaiannya juga harus sesuai, Jangan penca Cikalong, jika pakaian kuntau atau sebaliknya. Ini bukan berarti melarang, namun menurut pikiran begitu seharusnya. Rasa sunda, pakaian Sunda, Penca Sunda, Orangnya Sunda, itu semua yang harus dipikirkan oleh putra putra Sunda.
Bahkan jika belum tahu, di Batawi (tanah melayu) jika mau ngibing penca begini:
“ Pake kopiah, celana hingga lutut warna putih, baju kampret putih, samping polekat (sarung) di kalungkan di leher, menjuntai ke depan, (perlunya sarung ke depan untuk menangkap senjata yang tajam, begitulah orang melayu, kuat dengan tradisi leluhur Sunda jaman embah kahir).
Dalam hal pakaian pada pada saat ngibing, meskipun sudah disebutkan sebagian, bagi orang yang menyukainya bukan masalah, hanya saja bagusnya memang begitu, menurut pendapat para ahli juga begitu seharusnya, bahkan bila belum tahu yang disebut namanya dalam buku ini pakaiannya juga kabaya gobrah, dililit cimpo mata dam, tinun cele besar, celana sontog poleng.
Penutup
Pesan bagi semua yang sedang atau sudah belajar penca, jangan sampai menyimpang dari wejangan gurunya, seperti: Coba coba menantang, banyak tingkah, di jalan jalan, di tempat umum, sebab kurang bagus terlihatnya.
Biasanya bagi yang belajar penca, jika baru belajar, seringkali ingin terlihat oleh orang lain (sombong) , bahwa saya bisa penca, berani kepada siapa saja, kecuali gurunya, bahkan sudah merasa cukup punya ilmu. Hal ini perlu di jaga sekali, sebab tidak akan sampai mahir dalam belajar terus.
Adapun perkara ilmu penca tidak akan pernah selesai, hanya akan selesai dengan mati, orang akan selamanya belajar saja.
Jika seseorang telah memiliki pemahaman yang tinggi, akan menjadi sebaliknya, senantiasa hati hati dalam bersikap, jika ada apa apa gimana nantinya.
Jadi umpama kita telah belajar, kita bisa menilai, seseorang masih tingkat bawah atau baru belajar, atau telah mencapai tingkat tinggi, menurut keadaannya.
Begitu juga bagi orang yang bagus ngibingnya, itu juga tidak menjadi patokan, bahwa orang tersebut amat jago urusan pencanya. Melainkan Itu hanya sekedar bagus dalam ibingnya saja.
Oleh karena itu amat lah sulit untuk menilai seseorang mana yang pintar, dan mana yang masih tingkat bawah dalam urusan penca.
Seumpama sudah bersambung, barulah kita bisa menentukan seseorang itu lebih tinggi dari kita, seimbang, atau lebih bawah dari kita.
Pada sebagian orang yang mengerti, meskipun tingkatnya lebih atas, tidak pernah mau berusaha menjatuhkan, namun hanya sekedar di ajak bermain saja, namun kita barangkali akan mengerti dan terasakan, bahwa orang ini tingkatannya lebih tinggi, sebab semua kekuatan dan serangan kita tertutup, tidak bisa masuk, tentu saja orang tersebut jangan dianggap seimbang kemampuannya dengan kita.
Bagi orang yang suka ngibing penca, di minta kepada yang menyukai dengan ibing penca dalam hal pakaiannya, dalam ngibing sebisa mungkin jangan merobah ciri khas sunda (kasundaan), namun harus berdasarkan yang semestinya pakaian ki sunda tulen, sebab dari jaman dulu juga tradisi sunda (ki Sunda) begitu, hanya tidak boleh memakai potongan, atau celana komprang pada waktu ngibing.
Pada khaulan jaman dahulu biasanya yaitu
Baju kampret putih yang bersih, celana sontog, atau celana pendek sampai lutut, udeng, dengan samping tenun di lilitkan sebagai sabuk di pinggang, di dalam atau di luar baju tidak masalah.
Supaya tidak keliru bagi yang sedang belajar, berikut dijelaskan pakaian pakaian yang biasa di pakai untuk penca.
Kuntau : Baju hitam (tuwikim), celana komprang hitam, dikerepus cara batok hitam, sepatu tiongkok.
Dikarenakan kerepus cara batok, di pulau jawa tidak ada, akhirnya diganti oleh sapu tangan (diteregos).
Dandanan seperti ini hampir oleh semua generasi sunda yang belum tahu, dipakai pada waktu ngibing penca, rupanya amat diperlukan sekali. Bedanya hanya tidak memakai sepatu tiongkok saja.
Disarankan bagi yang menyukai dengan penca sunda, pakaiannya juga harus sesuai, Jangan penca Cikalong, jika pakaian kuntau atau sebaliknya. Ini bukan berarti melarang, namun menurut pikiran begitu seharusnya. Rasa sunda, pakaian Sunda, Penca Sunda, Orangnya Sunda, itu semua yang harus dipikirkan oleh putra putra Sunda.
Bahkan jika belum tahu, di Batawi (tanah melayu) jika mau ngibing penca begini:
“ Pake kopiah, celana hingga lutut warna putih, baju kampret putih, samping polekat (sarung) di kalungkan di leher, menjuntai ke depan, (perlunya sarung ke depan untuk menangkap senjata yang tajam, begitulah orang melayu, kuat dengan tradisi leluhur Sunda jaman embah kahir).
Dalam hal pakaian pada pada saat ngibing, meskipun sudah disebutkan sebagian, bagi orang yang menyukainya bukan masalah, hanya saja bagusnya memang begitu, menurut pendapat para ahli juga begitu seharusnya, bahkan bila belum tahu yang disebut namanya dalam buku ini pakaiannya juga kabaya gobrah, dililit cimpo mata dam, tinun cele besar, celana sontog poleng.
Penutup
Penutup saya, terimakasih banyak kepada siapa saja yang membaca paparan ini, mohon maaf yang sebesar besarnya jika dalam segi bahasanya begitu kacau (pabaliut), maklum seumur hidup baru belajar mengarang, namun ini dikarenakan saking tertariknya oleh cengengnya kemauan ingin mendorong menunjukkan kepada umum, kepada seluruh orang sunda khususnya, bahkan jadi penggugah, mau melihat diri pribadi, melihat masa yang telah lalu.
Sepengetahuan saya, umumnya kaum muda terpelajar di jaman sekarang sudah tertarik oleh kebangkitan produk negara luar, seperti kaum muda di kota kota bagaimana tertariknya dengan melihat atau mendengar luar biasanya Tarzan, Tommix dan sebagainya. Atau kesini kesini oleh jago jago boksen dari negara lain, hingga barangkali jika bisa ingin meniru segala rupanya, pakaian tingkahnya, gayanya (legegna), gerak geriknya ingin meniru. Hingga oleh sebagian gambar photonya nya juga dikumpulkan di simpan apik. Dalam hal ini bukan bermaksud mencela dengan keadaan yang disebutkan seperti itu, jauh dari pikiran itu, sebab meskipun kemajuan mana saja apabila betul menirunya disertai dengan betul betul mampu, tetap akan menjadi kebaikan; dalam pengantar tulisan ini juga telah disebutkan bahwa semuanya sama, asal harus sampai pada tingkatan mahir.
Namun Sesungguhnya, menurut pikiran akan lebih baik, lebih bagus terlihat jika para kaum muda Sunda mau mementingkan belajar terhadap kemajuan kaeruhun Sunda (kemajuan bangsanya), sebab tentunya akan lebih terhujam terasanya, lebih enank dipakainya, lebih indah terlihat, lebih cocok dengan apa yang ada pada dirinya.
Puji Syukur Alhamdulillah, untuk di wilayah kabupaten Cianjur kebangkitan Penca masih tetap disukai oleh umumnya generasi muda Sunda meskipun tidak sampai mahir, namun menurut peri bahasa “saeluk elukeun” (sedikit sedikit) sudah banyak yang bisa.
Buktinya di beberapa tempat di wilayah Cianjur sering kali terdengar kendang penca, disertai dengan sorak sorai nya anak anak muda, apalagi itu dalam pesta pora hajatan, hampir selamanya kendang penca tidak pernah tertinggal.
Semoga kedapan bukan hanya di wilayah cianjur, namun juga di tempat tempat lain, dan di sekolah sekolah di ajarkan penca sebagai pengganti Gymnastik, supaya kebankitan ini jelas majunya.
Kepada semua para Juragan yang namanya di sebut sebut dalam tulisan ini, terutama yang masih hidup, mohon maaf yang sebesar besarnya bila ada kesalahan, begitu juga kepada Juragan juragan yang sudah ahli dalam perkara penca, dan tidak tersebutkan dalam karangan ini, saya mohon maaf, bahwa yang dimaksudkan dalam paparan ini juga hanya menceritakan kisah aktor yang punya peran dalam menyebarkan kebangkitan penca. Juga kepada yang lain juga hanya sekedar yang terkait oleh jalan ceritanya saja.
wassalam
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar